22/11/2018

Raos Kemropok Versus Merdeka Belajar (Mencatat Belajarnya Para Ustadzah #1)

Tulisan ini sudah diagikan di halaman facebook Sekolah Alam Ramadhani.


Sebuah kelas begitu ramai dan berisik. Anak-anak masih saja seru melempar-lempar kertas, bersembunyi dari temannya di bawah meja, berlari-larian, tertawa, dan beberapa dari mereka keluar masuk kelas, tanpa menghiraukan guru yang sedari tadi memukul-mukulkan kemoceng ke bangkunya. Ekspresinya berubah menjadi begitu garang, sebentar lagi teguran yang hampir tak bisa dibedakan dengan cacian akan keluar dari mulutnya. Anak-anak akan dihukum dengan jeweran, berdiri di depan kelas, atau harus mendengarkan nasihat-nasihat dengan nada tinggi hingga bel pulang sekolah berbunyi.

Ada juga kelas yang begitu hening, duduk seorang guru di kursinya sambil menjelaskan materi-materi dari bahan ajar. Meski seisi kelas tampak mendengarkan, tapi anak-anak bisa menangkap sebuah ancaman di kelas mereka. Tidak ada yang berani menolehkan kepalanya, menselonjorkan kakinya, atau hanya menyandarkan tubuhnya pada kursi. Apalagi jika harus menjawab gerutu dari teman sebangkunya. Tapi, bagi guru, kelas yang hening adalah kelas yang tenang, kelas yang berhasil ia kondisikan sesuai harapan.

Proses belajar mengajar tidak terlepas dari tujuan belajar itu sendiri. Keberhasilan belajar diukur dari target-target yang berhasil dicapai melalui proses pembelajaran. Sebelum mengajar, banyak rencana yang telah disiapkan guru. Bahkan melalui kurikulum, guru telah diberikan perangkat yang rinci. Guru hanya tinggal mengeksekusi. Tapi, seringkali guru mengabaikan hal pokok lain selain perancanaan yang matang, bahan ajar yang memadahi, dan media belajar yang mewakili. Ialah mengajar dengan hati, mengajar dengan rasa.

Anggaplah kita adalah guru yang mengajar di kelas gaduh seperti yang saya gambarkan dalam paragraf pertama. Besar kemungkinan bagi kita semua untuk bersikap reaktif seperti memukul-mukul kemoceng, menunjukkan ekspresi kita yang paling garang, tidak segan meluapkan amarah, melontarkannya dengan perkataan-perkataan yang tidak baik dengan nada yang tinggi, dan semua itu kita lakukan dengan begitu reaktif, tanpa kita sendiri tahu apakah menjelma menjadi pemimpin serdadu adalah satu-satunya cara yang paling tepat. Sikap reaktif tersebut singkat kata saya simpulkan sebagai luapan dari raos kemropok (rasa tidak senang, jengkel, kesal hati, dongkol, gregetan, pedar, kecewa, sebal, jemu, gondok, dan istilah-istilah lain yang sedefinisi). Dimana perasaan itu bisa mudah diluapkan ketika kita lupa bahwa anak-anak yang kita hadapi adalah anak yang memiliki rasa dan berperasaan. Ya, kita sering mengabaikan hal pokok ini.

Tentang proses belajar mengajar yang hening dengan banyak manipulasi tersembunyi di dalamnya, seperti yang saya gambarkan pada paragraf ke dua, bukanlah bagian praktik mengajar dengan hati. Mengajar dengan hati, berarti memahami bahwa anak-anak juga berperasaan sama seperti kita, akan mengantarkan pada proses pembelajaran yang damai, proses pembelajaran yang merdeka, yang dilandasi sikap pengertian dan memahami. Artinya kelas yang hening belum tentu kelas yang damai. Kelas yang damai adalah kelas yang merdeka yang ditunjukkan dengan perasaan-perasaan senang di dalamnya, bukan perasaan terkekang atau terancam.

//USAHA MENEGUHKAN KEMBALI MERDEKA BELAJAR//

Meski raos kemropok adalah perasaan yang wajar dan manusiawi, tapi dalam konteks pendidikan yang berlandaskan pada konsep merdeka belajar, raos kemropok menjadi masalah substansial yang harus diperbincangkan dan ditindak lanjuti.

Memahami anak dari sudut pandang rasa yang dimilikinya, dapat dilihat melalui 4 tahapan :

Satu, tahapan ketika anak memiliki rasa, tapi, raganya belum berfungsi. Seperti bayi yang menangis karena lapar (rasa), tapi belum bisa memenuhi kebutuhannya sendiri karena raganya belum berfungsi.

Dua, tahapan ketika anak memiliki rasa, raganya sudah berfungsi, tapi, belum tahu aturan alam. Seperti anak-anak yang tertarik dengan api (rasa), ia bisa berlari mendekat ke api (raganya sudah berfungsi untuk memenuhi rasa), tapi belum memahami bahwa api memiliki sifat panas dan membakar.

Tiga, yiatu tahapan ketika anak memiliki rasa, raganya sudah berfungsi, dan sudah tahu aturan alam. Seperti anak yang sebelumnya belum tahu bahwa api memiliki sifat panas, menjadi tahu (sudah tahu aturan alam).

Empat, yaitu tahapan ketika anak memiliki rasa, raganya sudah berfungsi, dan sudah tahu aturan alam, dan bisa memahami perasaan orang lain.

Dengan melihat anak-anak sesuai dengan usianya, bisa jadi mereka masih berada pada tahapan pertama, ke dua, atau ke tiga. Maka kita sebagai orang dewasa yang berada pada tahapan ke empat, yang memiliki kemampuan memahami perasaan orang lain, sedangkan anak-anak belum mencapai tahapan itu, maka dengan posisi seperti itu, kitalah yang harus memahami anak. Bukan sebaliknya.

Saya coba gambarkan kembali. Anak berlarian di kelas ketika proses belajar berlangsung bisa memicu raos kemropok kita, yang berujung pada sikap menyalahkan anak karena mereka tidak menurut atau membuat proses pembelajaran tidak sesuai harapan. Intinya, lebih jauh, raos kemropok bisa membawa kita pada anggapan bahwa orang lain lah yang salah. Jika kita berhadapan dengan anak dan memahami mereka dari sudut pandang rasa yang dimilikinya, kita akan tersadarkan, bahwa “melakukan kesalahan” belum ada di kamus mereka. Mereka masih dalam tahapan sesuai dengan usia dan perkembangannya. Peran orang-orang dewasa di sekitarnya termasuk gurulah yang harus mengarahkan. Bukan malah menyalahkan.

Karena,

“Jika seorang guru mengajar dengan rasa kemropok, artinya mereka mengajar dengan menindas. Mengajar yang tidak ada bedanya dengan menjajah, yang semula diniatkan dalam rangka memerdekakan, malah menekan kemerdekaan itu sendiri,”

Saya lantangkan kembali semboyan sebagai komitmen yang bulat untuk menolong diri dan orang lain dari kemiskinan berpikir:

Salam Merdeka Belajar!

Menjadi guru berarti belajar sepanjang waktu!

12/11/2018

Kursi Teras Rumah

Mewakili seorang anak, dengan begitu hormat tulisan ini ku tulis sebagai ungkapan bangga dan bahagia. Untukmu Bapak-bapak dimana pun kalian menghidupi. Terkhusus Bapakku yang ku cintai.



Jika ada kata yang bisa menggambarkan siapa bapakku, akan ku tulis kurang lebih begini...

Bapak memperlakukan anak-anaknya seperti kawannya.

Bagi kebanyakan anak perempuan, mereka terkadang lebih dekat dengan Bapak dibanding Ibunya. Saya tidak. Tidak ada kecenderungan seperti itu. Ibu bukan wanita karir. Ia dengan begitu bangga ku sebut Ibu Rumah Tangga. Bagiku Ibu dan rumah adalah satu kesatuan yang hampir tak bisa dibedakan, keduanya adalah tempat pulang. Jadi Ibu adalah tempat berteduhku, tempat sarapan dan tidur malamku, ia tak pernah jauh walau hanya sejengkal kaki. Sedangkan bapak adalah orangtua yang memiliki karakter ngemong, bisa ngimbangi usia anak-anaknya, terlebih asik diajak bicara, bahasanya tidak pernah menggurui. Saya ini temannya ketika sedang berdiskusi, tapi kalau pagi-pagi salim pamit sambil minta uang bensin, disitu saya berperan jadi anaknya, hehehe.

Bapak tidak pernah memaksakan kehendak dan sangat demokratis.

Saya nggak pernah dipaksa untuk jadi ABCDEFGHIZ. Dalam mengambil keputusan saya berdiri sendiri. Bapak memberikan pertimbangan hanya ketika saya minta, itu pun hanya memberikan pertimbangan, keputusan tetap di tangan saya. Ia hanya mengambil porsi sedikit dan seperlunya atas saya, yang artinya bapak memberikan kepercayaan kepada anak-anaknya. Pun ketika saya salah, bapak mengarahkan bukan menyalahkan.

Bapak tidak pernah menyakiti perasaan siapa pun bahkan untuk menegur saya ketika salah.

Bapak adalah orang tegas berhati lembut. Ia selalu menyampaikan hal-hal masuk akal meski ketika marah. Sambil menghisap rokoknya, ia sering mendudukkan ku di kursi ruang tamu sambil bicara tentang harusnya bagaimana. Meski begitu, saya tidak dibiarkannya diam, selalu ada dialog di tengah ketegangan. Tapi, sekali lagi, bapak tidak pernah menyakiti perasaan saya meski sedang marah.

Bapak, sosok yang berani, jujur, tanggung jawab, sabar, dan sederhana.

Tidak ada kata yang bisa saya ungkapkan tentang ini. Setiap bapak adalah bapak yang luar biasa bagi anak-anaknya.

***

Sore tadi, di kursi teras rumah, menjelang Maghrib, saya menemani bapak ngisis di sana. Mengomentari kucing yang tak pernah habis polah tingkahnya. Kami menertawakan satu-satunya kelucuan di sore itu. Sambil pembicaraan serius, sedang, dan ringan saling kami lontarkan.

Di sela-sela waktu seperti senja sore itu, bapak selalu mengundangku untuk menemaninya duduk di teras rumah. Kadang bisa berjam-jam, hanya saja di tengah-tengah Maghrib yang belum rampung tadi, anak SD yang biasa les di rumah sudah datang. Saya tepuk lutut bapak, menyaratkan ijin masuk rumah duluan.

***

Sekali lagi saya kenalkan siapa bapakku, ia adalah orang yang biasa-biasa saja dengan nilai rapornya semasa sekolah. Karena baginya sekolah adalah mengisi waktu luang dan pengalaman masa muda. Tapi, bapak adalah orang yang selalu bijak mengambil hikmah dari setiap kejadian dan pengalaman dalam hidupnya. Ia membangun keluarga, membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya hingga kuliah dan lulus bukan tanpa tekanan, induk ayam dan anaknya adalah keajaiban alam yang pernah ia jadikan pelajaran.

Seekor ayam tanpa akal, bisa membesarkan lima hingga sembilan anak-anaknya.

Selamat Hari Bapak, Pak!

29/10/2018

Dibukanya Jalan


Saya ingin mengatakan, bahwa saya percaya alam bisa mengajak kita berbicara. Bukan hanya saya, tapi kita. Tergantung. Tergantung bagaimana setiap orang menyebut dan memaknainya. Saya menyebutnya alam, seperti pada definisinya yang utuh, bukan hanya tentang gunung, sungai, dan pemandangan. Saya menyebutnya berbicara, bukan bicara sebagai kata kerja, dimana alam sebagai subjek sedang bercakap seperti apa yang ada di bayangan kita.

Saya coba sebutkan contoh tentang bagaimana alam pernah mengajak saya berbicara. Dalam sebuah artikel yang berjudul Melawan Rasa Takut, saya pernah menuliskannya. Ketika itu, dimana usia saya masih pada fase transisi yang hebat. Tanpa siapa pun menyadari bahkan percaya, saya pernah memiliki ketakutan konyol akan jauh dari rumah dan mengurus diri “sendiri”. Hingga sebuah ajakan untuk mengikuti bakti sosial selama dua minggu lamanya membuatku ingin mencoba dan menguji diri. Tapi, saya tetap tidak berani, saya tetap penakut seperti sebelumnya, saya tidak pernah jauh dari rumah, dan saya tetap keberatan untuk memutuskan “Ya, saya berangkat!”.

Hingga, saya menemukan jawabannya dari sebuah acara TV yang jarang sekali saya tonton. Dan tentu. Saya tidak pernah berpikir apa yang saya alami hanyalah sebuah kebetulan. Tapi, dari apa yang saya harapkan ─keinginan yang besar untuk mencoba merasakan “tidak di rumah”─ dengan keadaan saya yang tak tahu harus memulainya darimana, Yang Agung selalu membukakan jalannya, melalui alam yang mengajak kita berbicara. Hahaha. Tidak ada yang lucu, sama sekali.

Melalui acara TV itu saya percaya, alam sedang mengajakku berbicara. Melalui obrolan-obrolan ringan, saya sesekali menemukan jawaban atas keresahan saya disana. Melalui apa saja tanpa terencana, saya percaya, alam berbicara, menjawab semuanya.

Tulisan ini baru dimulai.

Saya sedang mengalami keresahan. Untungnya saya pandai menutupi segala kegelisahan, seperti caramu menutupi kegalauan. Ya kan? Hahaha.

Saya baru mengajar di salah satu sekolah swasta di Kediri. Di fase adaptasi seperti ini, kadang kita mengalami kebimbangan yang membuat kita berpikir bahwa tidak ada cara lain selain lari. Ada yang tengah beradaptasi dengan waktu, dari luang menjadi sempit. Beradaptasi dengan beban, dari senggang menjadi banyak yang diurus. Atau kesusahan beradaptasi dengan orang-orang yang bisa jadi berbeda dengan orang-orang di lingkungan kita sebelumnya. Meski tidak semua orang mengalami itu. Pun juga saya.

Saya juga tidak mengalami. Saya bisa beradaptasi dengan lingkungan baru saya, ya, karena lingkunhan di sana begitu ramah. Apalagi beban kerja saya yang tidak begitu memberatkan. Dan yang terpenting untuk orang-orang yang memiliki karakter tidak teratur, mengajar 12 jam seminggu atau seminggu libur 4 hari adalah surga yang dirindukan, hahaha. Bagaimana tidak bisa beradaptasi? La wong wis krasaaaaaan.

Kecuali satu. Saya belum bisa beradaptasi dengan ekosistem belajarnya. Paradigma saya tentang belajar, sekolah, dan pendidikan tengah tersesat dan bertolak belakang dengan sekolah yang selama ini kita kenal, meski belum terlampau jauh. Singkatnya, saya sedang meyakini bahwa belajar begitu tidak efektif jika diformalkan apalagi bersifat administratif. Setiap guru memiliki tuntutan kompetensi yang harus diselesaikan dalam kurun waktu yang terbatas. Tapi, sebaliknya, guru dihadapkan dengan keragaman dan keunikan anak yang tidak terbatas. Mudahnya begini, dalam satu kelas tidak jarang kita sebagai pelajar atau sebagai pengajar menemui anak yang memilih untuk tidak memperhatikan atau sibuk dengan dirinya sendiri, meski guru sudah men-setting kelas sedemikian rupa untuk belajar yang menyenangkan. Tapi, bagaimana pun juga semua yang ada di kelas adalah tanggungjawab guru. Karena belajar begitu formal, anak yang tidak siap belajar sering dianggap pemalas dan dianggap nakal atau pengganggu jalannya pembelajaran. Dan tidak jarang pula guru selalu meneriaki, memaki, bahkan mengucilkan. Saya tidak sedang membahas harusnya bagaimana. Tapi, menggambarkan satu dari beberapa contoh ekosistem belajar yang tidak sejalan dengan yang saya yakini.

Hal-hal demikian yang kemudian membuat saya sering berpikir untuk lari, saya tidak mau menjadi bagian dari ini, saya tidak mau mengambil peran disini, saya tidak mampu, saya tidak tahu jalan keluarnya.

Hingga, alam mengambil perannya, mengajak saya berbicara melalui sebuah chatting di Whatsapp.

Lagi-lagi saya meyakini, tidak ada yang namanya kebetulan, meski berangkat dari ketidaksengajaan. Tapi, siapa yang tahu jika jalannya sedang dibuka, dan saya dituntun untuk ke sana.

Seorang kenalan yang nomornya saya simpan, membuat story tentang perhelatan Festival Literasi yang diikuti salah satu SMK di Pare. Saya selalu tertarik dengan topik itu. Itu yang membuat saya mengawali sebuah chat whatsapp dengan Iwan Kapid, seorang pegiat dan penggagas Taman baca Masyarakat di daerah Jambu, kayen Kidul.

Kapan mas sampean longgare? Saya tak main-main ke sana.

“Besok bisa. Sekalian ada acara itu,”



Sebuah percakapan biasa-biasa saja, tapi, saya menyebutnya dengan “alam sedang mengajak saya berbicara”, yang bisa jadi tidak semua orang memaknai percakapan itu sebagai sebuah jawaban atas keresahannya selama ini. Lalu mengabaikannya, lupa, dan begitu seterusnya.

Jika saya verbalkan barangkali alam berkata begini, “Ada jalan keluarnya, kok. Lewat sini. Ku antar sampai ambang pintu saja. Setelahnya lakukan sendiri ya!”

Kujawab, "SIAAAAAAPP!!!"

Temu Pendidik Daerah Kediri Raya adalah salah satu forum komunitas Guru Belajar Kediri Raya. Komunitas dimana orang-orang yang tergabung di dalamnya percaya, bahwa mereka tidak sendiri. Atas keresahan yang saya alami, bertemu dengan komunitas ini merubah keyakinan saya; saatnya memikirkan cara selain lari!

*Topik yang dibahas di pertemuan Minggu, 28 Oktober 2018 kemarin mengenai disiplin positif dan Literatre Circle (klub mambaca) akan penulis tulis dalam artikel berjudul MENGHENDAKI “PERILAKU NEGATIF DISUDAHI” BERBEDA DENGAN MENGHENDAKI “PERILAKU POSITIF DILAKUKAN”

23/09/2018

Sinergi Orangtua dan Sekolah

Saat ini, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak mulai didengung-dengungkan kembali. Sejak mengemuka kebijakan sekolah gratis, sekolah wajib 9 tahun, bahkan 12 tahun─meski sebatas retorika─seakan memangkas peran serta orangtua. Entah bagaimana awalnya, orangtua hari ini begitu percaya dan menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Orangtua merasa perannya cukup dengan melunasi biaya administrasi, merasa puas dengan melihat anaknya bersedia bangun pagi, berseragam rapi, dan bersiap ke sekolah, namun, tidak mempersoalkan atau bahkan tidak memahami apakah selama 9 tahun melakukan rutinitas itu, anak-anak mereka benar-benar belajar atau malah mengalami kemandekan.

Tapi, orangtua memang tdak perlu melibatkan diri dalam pendidikan anak-anaknya di sekolah. Sangat tidak perlu. Buat apa. Negara telah memberi porsi untuk mengurusi pendidikan hingga ke pelosok-pelosok negeri. Pun kebijakan yang dibuat tidak serta merta seminggu jadi. Banyak pemikir yang terlibat di dalamnya demi terwujudnya pendidikan yang mencerdaskan kehidupan. Maka dari itu, tidak salah jika mengatakan bahwa orangtua tidak perlu ikut campur. Wong dari A sampai Z pendidikan sudah diatur oleh negara. Bukan tanpa alasan, Finlandia menjadi acuan untuk memperkuat argumen bahwa orangtua tidak perlu terlibat. Negara dengan predikat pendidikan terbaik di dunia ini memiliki tingkat keterlibatan orang tua yang rendah dalam proses pembelajaran anak di sekolah. Karena orang tua Finlandia memang percaya sepenuhnya terhadap sekolah yang sangat well-prepared. Toh, nyatanya juga berhasil. Apa bedanya? Sekolah di Indonesia kan juga well-prepared.

Kelas Orangtua

Pemandangan yang berbeda terjadi di Sekolah Alam Ramadhani. Jika sekolah lain melakukan pertemuan orangtua hanya pada momen-momen tertentu, seperti tahun ajaran baru atau pengambilan raport, di Sekolah Alam Ramadhani pertemuan orangtua bisa berlangsung dua minggu sekali. “Kelas Orangtua”, begitu kiranya forum pertemuan itu dikenal. Kelas yang berlangsung 30 hingga 45 menit itu dimaksudkan untuk menyampaikan tema-tema pembelajaran seminggu hingga dua minggu ke depan kepada orangtua anak. Tujuannya agar terjadi sinergi antara pembelajaran yang di lakukan di sekolah dengan orangtua di rumah.

Jumat, 21 September 2018, menjadi pertemuan ke tiga kelas orangtua. Mengawali pertemuan itu, Sunarno selaku manajer sekolah Alam Ramadhani menyampaikan tujuan diadakannya kelas orangtua, yaitu, terwujudnya keselarasan.

Konsep merdeka belajar tentu masih asing di telinga hampir kebanyakan orang. Bahkan tidak semua orangtua mendaftarkan anak-anaknya di Sekolah Alam Ramadhani karena memahami konsep belajar tersebut. Tidak bisa dipungkiri, alasan yang melatarbelakangi hanya karena sebuah kebetulan. Meski konsep merdeka belajar hanya satu dari sekian konsep yang diterapkan di Sekolah Alam Ramadhani, namun, melalui Kelas Orangtua tersebut diharapkan apa yang telah diupayakan di sekolah menjadi optimal dengan peran serta orangtua di rumah.

Tanpa adanya sinergi antara sekolah dengan orangtua, pembelajaran yang berlangsung di sekolah hanya akan menjadi angin lalu. Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa prosentase peran guru dalam prestasi anak hanya 1-14%. Sedangkan struktur sekolah 7-20%. Sisanya, 60-80% adalah individu atau anak itu sendiri. Jadi, bukan soal siapa gurunya dan dimana sekolahnya, tapi, bagaimana orangtuanya berperan dalam pengasuhan sehingga tercapai perkembangan pada diri anak secara optimal.

Bukan Sekolah yang Melibatkan Orangtua

Orangtua lah yang melibatkan sekolah untuk pendidikan anak-anaknya, bukan sebaliknya. Salah satu orangtua murid dalam pertemuan Kelas Orangtua menyampaikan bahwa sebelum mendaftarkan anaknya di Sekolah Alam Ramadhani, ia melakukan School Shopping ke beberapa sekolah untuk menemukan lingkungan sekolah yang sesuai untuk anaknya. Menurutnya, keterlibatan orangtua bisa dimulai dengan melakukan tindakan tersebut. Jika berbicara tentang perlu dan tidak perlunya keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak, jika bertolak dengan kondisi pendidikan yang bisa dikatakan well-prepared, nyatanya masih ada orangtua yang melakukan School Shopping, maka tidak aneh jika pada akhirnya permasalahan ini berakhir pada kesimpulan bahwa Negara tidak berhasil membuat orangtua percaya untuk menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anaknya ke sekolah-sekolah konvesional. Meskipun tidak sedikit faktor yang melatarbelakangi mengapa orangtua sampai harus melakukan School Shopping.

Tapi, School Shopping sejatinya mempertegas bahwa pendidikan anak pada dasarnya adalah tanggungjawab orangtua. Sekolah adalah lingkungan belajar yang diikutsertakan orangtua untuk mengoptimalkan pendidikan anak-anaknya.

Urun Rembuk Orangtua Ramadhani

Peran orangtua murid semakin terlihat ketika Kelas Orangtua mereka bawa atas kesadaran bersama. Menyadari bahwa ruang itu bisa mereka manfaatkan untuk berbincang tentang parenting ringan, secara bergantian, satu persatu orangtua murid menyampaikan masukannya di akhir sesi kelas. Mulai dari usulan untuk membahas topik tentang bagaimana meningkatkan kepercayaan diri pada anak, hingga tips dan trik bagaimana menumbuhkan motivasi anak untuk belajar di rumah.

Jika memang ada sekolah dimana guru dan orangtuanya bahu membahu memenjarakan anak. Maka lain dengan Sekolah Alam Ramadhani. Melalui Kelas Orangtua, nampak jelas, guru dan orangtua tengah bahu membahu untuk memerdekakan anak-anaknya.

Salam Merdeka Belajar! Hormat saya kepada orangtua-orangtua hebat Indonesia!

01/07/2018

Angin Segar

Mahasiswa Pendidikan dengan pencapaian lulus tepat waktu dan memiliki seabrek rencana lengkap dengan kegundahannya, sepertinya sedikit terobati setelah menyempatkan diri ikut Konvensi Pendidikan Indonesia (KPI) VI di The Naff School Kediri.

Forum dengan tagline OLDWA (Ojo Leren Dadi Wong Apik) mempertemukan saya dengan para praktisi pendidikan yang mengklaim diri mereka sebagai sekumpulan orang-orang ngawur.


Pendidikan memang tak habis-habisnya memberikan ruang untuk hanya dinyinyiri, dikritisi, atau bahkan dipandang sebelah mata. Selama saya kuliah dan mengambil mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan, saya merasa ditegur secara tidak langsung oleh pernyataan seorang dosen.

"Jangan hanya menge-judge, kita juga bertanggungjawab!"

Sekaligus kesadaran saya serasa digampar habis-habisan. Kalimat itu jadi pegangan saya hari ini. Di mading kamar, ia menjadi reminder paling ampuh, saya selalu diingatkan untuk berhenti sekedar memberikan kritikan tanpa solusi atau aksi.

Semua berawal dari buku pendidikan yang pernah saya baca, dengan menawarkan berbagai paradigma sempat membuat saya menutup mata dan putus asa dengan pendidikan, ketika itu. Saya menjadi begitu pintar mencari celah dari pendidikan tanpa mengimbanginya dengan "apa yang harus dilakukan untuk mengakhiri segala permasalahan".

Kadang membaca buku tanpa diimbangi dengan diskusi sering berpeluang menyesatkan kesadaran kita dalam bernalar dan berperilaku.

Tapi, keputusasaan saya sebagai seorang mahasiswa pendidikan dilibas habis dengan perasaan "saya tidak sendiri". Orang-orang yang datang di KPI VI membukakan mata saya. "Ini lo wajah pendidikan Indonesia. Tidak seseram bayanganmu".

10/06/2018

Aku Menulismu Ketika Melamun di Stasiun


Selama menuju Surabaya
Banyak pemberhentian di sepanjang perjalanannya
Berhenti adalah bagian dari perjalanan
Tidak berhenti; tidak ada penumpang; tidak ada tujuan
Kereta harus berhenti untuk melanjutkan perjalanan

Tapi kita bukan kereta
Berhenti bagi kita bukan bagian dari perjalanan
Tapi, memulai perjalanan baru
Kita hanya penumpang yang bertemu di satu gerbong yang sama
Tidak dengan tujuannya
Kita sama-sama sepakat, melalui karcis kereta
Bahwa kota yang kita tuju sungguh berbeda

Duduk bersanding sepanjang malam
Tidak berarti kita akan turun di kota yang sama
Kala Surabaya telah menjadi akhir perjalananku
Maka setelahnya adalah perjalanan baru
Ya, kita berpisah sejak dari situ

12/03/2018

Semua Menjadi Tidak Penting pada Masanya #3

Dalam percakapan di grup whatsapp itu, aku menemukan berbagai tipe respon atas tulisan yang ku bagikan. Ini hanya berdasarkan asumsi belaka, kesimpulan yang kubuat sepihak tanpa mendiskusikan dengan mereka yang terlibat dalam percakapan. Iya, aku hanya sedang mengungkapkan bagaimana aku menilai orang lain, seperti yang biasa kalian lakukan. Bedanya, mungkin aku menuliskannya disini, sedangkan kalian, hanya kalian simpan sendiri.

Source : Google

1. Tipe Realistis

Tipe ini adalah ia yang berkomentar “Tak ndelok wae lah ben gak kesroh....saiki tak mikir kuliah wae seng bener.... ben ndang cepet lulus, gek ndang mergawe.... golek kehidupan dunia....”. Tipe ini berpikiran bahwa apa yang menjadi topik pembicaraan tidaklah penting jika dibandingkan dengan nasib kuliah dan kehidupannya yang lebih realistis.

2. Tipe Idealis

Tipe ini adalah tipe yang berkomentar “Amin, cita-cita yang mulia. Izin COPAS”. Tipe ini bermaksud memberikan dukungan atas tulisan yang telah ku reshare, karena bisa jadi ia memiliki satu kacamata yang sama dengan penulis.

3. Tipe Realistis-Idealis

Tipe ini adalah tipe yang berkomentar “Iki perlu ditanggepi gak?”. Melihat latarbelakangnya yang telah terjun di kehidupan nyata dengan tuntutan kerja dan gaji bulanan, tapi ia masih menyempatkan untuk ikut menanggapi.

4. Tipe Plin plan

Tipe ini adalah tipe yang berkomentar “Nyimak” namun, setelahnya malah yang paling gencar membantah tulisan dengan memberikan pernyataan “Sering mengkritik penguasa, tapi polahe sama kayak penguasa. Saling menjatuhkan”, dimana artinya ia tidak memberikan dukungan atas tulisan tersebut.

5. Tipe Mengamati

Tipe mengamati adalah saya. Sebelum reshare saya telah berpikiran bahwa ini akan sangat bertolak belakang, melihat grup tersebut berisi sekumpulan mahasiswa semester akhir yang beberapa baru menyelesaikan seminar proposal skripsinya. Akhirnya, ku putuskan untuk mengamati bagaimana respon mereka, mengingat di luar sana, masih banyak mahasiswa yang masih memegang teguh idealisnya, berpikiran bahwa "kalau bukan saya yang mengkritik, siapa lagi."

6. Tipe Mengoreksi

Tipe ini adalah tipe yang meluruskan penggunaan terma oposisi yang ku pakai. Ia tidak menunjukkan apakah ia realistis ataupun idealis. Ia hanya ikut berkomentar dengan maksud memberikan pelurusan.

7. Tipe Mengalihkan Pembicaraan

Tipe ini yang sedari tadi mengikuti perbincangan, namun sama sekali tidak memberikan komentar, ya, silent reader. Tipe ini muncul ketika grup mulai agak pasif, ia datang dengan maksud mengalihkan pembahasan dengan guyonan seperti “mizone mizone, aqua aqua" dan lain sebagainya. Sejak tipe ini muncul, banyak anggota grup lain yang muncul dan menanggapi guyonannya. Akhirnya, pembicaraan teralihkan. Perbincangan selesai. Pengamatan berakhir.

11/03/2018

Semua Menjadi Tidak Penting pada Masanya #2

Selama beberapa anggota grup satu persatu memberikan komentar, saya sibuk menyimak dan berpikir tentang tiap-tiap reaksi dari mereka. Bukan menyoal tulisan yang sengaja saya reshare. Tapi, bagaimana tanggapan mereka, pun juga tanggapan saya atas mereka.

Akhirnya saya memutuskan untuk ikut berkomentar setelah sebuah chat yang menurutku memang perlu untuk ditanggapi,

“Sering mengkritik penguasa, tapi polahe sama kayak penguasa. Saling menjatuhkan.” komentar seseorang yang sebelumnya memutuskan menyimak.

Aku membacanya dengan mengernyitkan kening, sedikit agak gagal paham. Berusaha memahami maksud dari komentar itu. Akhirnya, aku coba mengartikannya begini; mungkin ia berprasangka bahwa pengkritik adalah oposisi, lawan, oponen, kompetitor, atau rival  (entah bagaimana orang membahasakannya). Dimana maksud dari kritikannya bukan untuk membangun tapi menjatuhkan. Bukan untuk memberikan gagasan-gagasan positif, tapi hanya nyinyiran. Juga tentang pilihan kata 'penguasa', sepertinya dari sanalah pemahaman saling menjatuhkan ia sematkan. Bahwa wakil bukanlah wakil, tapi penguasa. Hmmm

Anggap saja benar. Akhirnya ku baca ulang tulisan yang ku kirim tadi. Dan aku menemukan tidak ada satu pun tulisan yang bersifat menjatuhkan penguasa, seperti yang ia katakan. Jangan-jangan ia hanya asal berkomentar tanpa memahami apa yang ia bicarakan(?)

“Soal kritik, sepertinya kita memiliki persepsi yang berbeda. Mengkritik bukan berarti oposisi. Mungkin si penulis ada maksud menyumbangkan gagasannya untuk mendukung atau mensupport ‘penguasa’, dengan saran-sarannya melalui tulisan di atas :)” akhirnya aku menanggapi.

Tapi, sayangnya ia malah mersepon seperti ini, "Mantap, kita memiliki sudut pandang yang berbeda."

Tidak habis pikir memang dengan balasan terakhirnya. Jika perbincangan ini adalah sebuah forum diskusi serius, maka akan terdengar aneh ketika seseorang menyuguhkan persepsinya atas suatu hal, dengan maksud meluruskan persepsi ambigu yang orang lain sampaikan atas suatu hal yang sama, tapi, hanya direspon "yeee kita punya sudut pandang yang berbedaaaaa". Haha, ini apaaaaaaaaa -_-

"Tidak ada yang lebih suka mengkritik daripada pihak oposisi, dari realita politik di tanah aerrrr" tambahnya.

Ia membalas lagi? Ah aku sedikit gemas membacanya. Kali ini ia berbicara perihal realita, mungkin artinya sebelum menyampaikan pernyataan itu, ia telah melakukan survei panjang, observasi dan wawancara kepada siapa saja yang mungkin pernah menulis kritikan-kritikan di kolom opini surat kabar, atau para demonstran yang sedang berdemo di jalanan, atau bahkan melalui cerita orang. Ya, semoga saja ia memiliki dasar.

Lalu, anggota lain yang baru muncul ikut berkomentar. Ia menyanggah atas penggunaan istilah oposisi yang ku gunakan.

“Aku agak tidak setuju, menurut Nurcholis Madjid, mengkritik itu bagian dari oposisi selama mengkritiknya membangun atau check and balance. Sedangkan kritik yang menjatuhkan disebutkan dengan istilah oposisionalisme.” Jelasnya.

Oww, jadi begitu. Menarik. Perihal terma itu memang perlu diluruskan. Akhirnya ku tambali begini, “mungkin singkatnya, maksud dari argumenku tadi adalah; Berdebat bukan untuk mencari pemenang, Mengkritik bukan berarti membenci.”

Semua Menjadi Tidak Penting pada Masanya

Mungkin suatu hari nanti, entah empat, delapan, atau sepuluh tahun ke depan, saya akan berpikir bahwa kegiatan menulis di blog Someday sangatlah tidak penting.

Bahkan, dulu, ketika masih sekolah dasar, bermain petak umpet, kelereng, dan bongkar pasang yang menjadi rutinitas setiap sepulang sekolah menjadi tidak penting di usia SMP, SMA, apalagi di usia 23 tahun, hehehe.
Source : Google
Btw penting nggak? xixixi

Ketika menulis ini, status saya adalah mahasiswa semester akhir dengan sekumpulan rencana untuk lulus cepat. Disamping mencari modal untuk memperlancar usaha, saya juga sedang terlibat dalam penggarapan sekolah alam, semoga lancar.

Lalu, sebuah chat tiba-tiba masuk. “Share dong kak,”

Assalamu'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu.
Selamat malam, kawan-kawanku sekalian. Salam sejahtera bagi kita semua.

Syukur alhamdulillah saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuat, karena sampai saat ini kita masih diberikan kekuatan untuk memikirkan hal-hal yang kiranya belum sempat terpikirkan.

Kalau boleh tahu, apa kegiatan kalian di Hari Minggu ini? Jalan-jalan bersama kekasih, nonton di bioskop bersama teman, atau belanja di Mall bersama keluarga? Atau tidak semuanya?

Apapun itu, yang penting semoga Hari Minggu kalian terasa ceria dan bahagia. Saya sendiri lebih memilih untuk menulis sambil menikmati segelas kopi dan sebatang udud. Tapi jangan salah sangka dulu, kelihatannya saya jomblo, padahal sebenarnya tidak. Tidak punya pasangan maksudnya.

Tapi setidaknya dengan menulis, saya bisa mencurahkan seluruh isi hati, pikiran, emosi, bahkan harapan saya. Bukankah karya tulis adalah anak rohani yang merefleksikan diri penulisnya?

Saya menggaris bawahi, ada satu proses demokrasi yang "cacat" di kampus tercinta kita STAIN Kediri. Kecacatan tersebut saya nilai dari beberapa hal, diantaranya:

04/02/2018

Selamatkan Diri dari Rendah Diri #2

Sebelum berperang, sudahkah kamu percaya dengan dirimu sendiri? Selamatkan Diri dari Rendah Diri #1

Tidak terasa bermain peran menjadi seorang guru telah berjalan hampir genap satu bulan. Meski mengajar bukan lagi hal baru, tetapi bagaimana pun dalam konteks ini ya tetap saja baru. Dengan banyak sekali tanggungjawab yang diemban, mulai dari perencanaan mengajar yang harus dipersiapkan, penilaian, dan harapan tentang kelas yang selalu mengesankan, membuat mengajar disini memiliki perbedaan yang signifikan dibanding mengajar private dari rumah ke rumah, atau mengajar di lembaga bimbingan belajar. Apalagi mengajar kali ini dalam rangka menuntaskan persoalan kuliah dan membawa nama kampus, bukan membawa nama pribadi. Jika dipikir berat ya berat, dipikir selow ya selow. Katanya, setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Kalau kata Gus Dur sih, “Gitu aja kok repot”.

Mengeluh sepertinya persoalan manusiawi. Jadi ya wajar. Karena kemampuan kita memang terbatas. Tapi, bagaimana jika ternyata mengeluh bukan persoalan pekerjaan itu di luar dari kemampuan kita, tetapi, sebuah sikap kita yang membatasi kemampuan diri sendiri? Bahwa bukan karena pekerjaannya yang berat, tetapi, kita lah yang belum terbiasa atau belum selesai beradaptasi dengan pekerjaan baru, tapi terburu-buru berasumsi bahwa “saya tidak bisa” atau “ini menyusahkan saya”. Ambil contoh begini, misal sebelum kita dipaksa untuk praktik mengajar di sekolah, keseharian kita sebelum itu hanya nongkrong, baca buku sambil nunggu senja, scrolling timeline instagram, tidur 12/24 jam dalam sehari, dan dipenuhi pekerjaan-pekerjaan tanpa tuntutan lainnya. Dari situ, kita sadar bahwa berubah drastis hanya kemampuan spiderman ketika berganti kostum laba-labanya. Sedangkan kita, ya butuh proses. Tidak ada orang bisa menjadi sangat profesional dalam semalam. Semua berawal dari susah payah dan berujung pada hasil yang melimpah ruah. Ya, jika kita sungguh-sungguh dan tidak banyak mengeluh.

Lalu, bagaimana jika sumber masalah datangnya bukan karena gagal beradaptasi, tapi dari diri kita sendiri?

Itulah yang ku rasakan ketika mengajar di minggu kedua, di salah satu kelas unggulan di sekolah itu. Mungkin tidak banyak yang tahu, karena sengaja ku simpan sendiri. Tentang rasa percaya diriku yang tiba-tiba bersembunyi entah kemana, karena suatu alasan yang sepele. Kala perasaan itu muncul, pekerjaan menjadi berat sekali. Rasanya ingin menyampaikan begini, “saya kayaknya nggak cocok disini, saya nggak kompeten, saya banyak kurangnya, saya saya saya, dan seterusnya”. 100, 1000, bahkan berpuluh-puluh ribu alasan bisa ku buat hanya untuk mengafirmasi bahwa “saya nggak bisa!”. Seminggu lamanya saya terpuruk. Saya seperti kehilangan diri saya sendiri. Tapi, tidak setelah sebuah artikel di internet selesai ku baca. Tentang sebuah teori psikologi rendah diri,  Alfred Adler.

Manusia, kata Alfred Adler, terlahir dengan rasa rendah dirinya. Ia selalu bergantung kepada orang-orang di sekitarnya karena segala ketidakmampuannya. Lalu akan datang suatu hari ketika ia menyadari bahwa ketidakmampuan yang ada pada dirinya adalah sebuah kelemahan. Dari sanalah perasaan rendah diri muncul. Membawa manusia kepada dua kemungkinan respon, meningkatkan kemampuan diri atau menarik diri. Bahwa perasaan rendah diri akan menjadi dorongan manusia untuk menjadikan dirinya seperti sesuatu yang mereka idealkan. Misal, dalam konteks mengajar, kita tidak akan tahu seberapa kurangnya kompetensi kita jika tidak dalam kondisi sadar dan selalu berefleksi serta mengevaluasi diri. Kita akan menyadari beberapa hal bahwa ternyata kita lemah dalam penguasaan materi, atau lemah dalam pengkondisian kelas. Kita memberikan ukuran ideal dalam menggambarkan dua permasalahan tadi, dan kita menyadari bahwa kita belum di titik itu.

Ada dua sikap yang seringkali muncul dalam merespon kekurangan-kekurangan kita. Pertama, meningkatkan diri, berusaha mengatasi kekurangan dengan kesadaran lifelong learning. Bahwa dalam menjalani hidup kita selalu belajar. Kedua, menarik diri. Sikap itu lah yang kerap kita ambil ketika kita lupa bahwa hidup adalah persoalan melampaui, bukan lari. Memilih lari dari masalah dengan keyakinin diri “saya tidak bisa, ini bukan saya, saya tidak cocok disini” adalah sikap rendah diri yang membuat kita berhenti bermain Super Mario, padahal sejak awal kita sepakat untuk memenangkan permainan. Tapi, keputusanmu menarik diri membuatmu berpindah ke permainan yang lain. Ketika kamu menemukan dirimu tak berdaya dalam permainan yang baru, kamu menyerah dan berpindah ke permainan selanjutnya, bermain-menyerah, bermain-menyerah, dan seterusnya. Lalu, suatu hari kamu menyadari bahwa tidak ada satu pun permainan yang kamu selesaikan. Kamu terlalu sibuk menyerah dan lari. Tidak ada satu kompetensi yang benar-benar kamu kuasai. Kamu melewatkan hidup dengan menghindari belajar.


Dari sanalah saya terhenyak. Bahwa ternyata perasaan rendah diri bukan perasaan yang mengingatkan kita tentang betapa tidak mampunya kita, tapi sebuah reminder untuk “selesaikan permainan!”. Lalu ketika kita berhasil menyelesaikan permainan, kita akan bertemu dengan perasaaan rendah diri yang lain di permainan yang baru. Begitu seterusnya.

Selamat melampaui diri dan berhenti mengeluh!  

28/01/2018

Selamatkan Diri dari Rendah Diri! #1

Hampir satu bulan lamanya aku menjadi bagian dari madrasah tsanawiyah, tempat dimana aku Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Semester tua mengharuskanku untuk segera mengaplikasikan apa yang telah ku peroleh selama 7 semester. Bangku kuliah mendorongku untuk bergabung dengan bangku-bangku sekolah yang dipenuhi para siswa berseragam. Di sanalah kesempatan terbesarku. Learning by doing. Dengan praktik langsung, ketika mengajar, kita tak lagi meraba tentang apa yang dimaksud dengan mengkondisikan kelas, menerapkan perencanaan pembelajaran, mengajak siswa berpikir (tidak hanya mendikte), dan bagaimana menghadapi mereka yang menolak kita (dalam konteks apa yang kita sampaikan).

Sebelumnya, di bangku kuliah, kita sering mendebatkan berbagai hal yang belum pernah kita lakukan. Kita hanya memberikan argumen-argumen paling masuk akal atas segala permasalahan. Ambil contoh misalkan, ketika muncul pertanyaan, bagaimana mengatur waktu agar sekian kompetensi bisa kita berikan dalam satu kali pertemuan dengan tepat waktu? Kemudian kamu menjawab, “Ya, maka dari itu kita butuh yang namanya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),”. Lalu bagaimana dengan kondisi kelas yang sifatnya begitu insidental, berkaitan dengan hal yang tiba-tiba muncul di luar dugaan, yang mengakibatkan jadwal tidak berjalan sesuai rencana? Lalu jawabanmu, “Ya, itu tergantung masing-masing individu, bagaimana ia merancang dan melaksanakan RPP-nya”. Tamat. Sampai disitu diskusi kita berakhir krik-krik. Haha

Paling tidak, melalui diskusi, kita dipaksa untuk berpikir.
Sedangkan melalui praktik langsung, kita dipaksa untuk tidak sambat.

Bahwa kita sering lupa, apa pun yang terjadi dalam hidup, kita selalu melaluinya dengan belajar. Seperti halnya jalanan raya yang selalu macet setiap jam setengah 7 pagi. Dari sanalah kita belajar untuk tidak terjebak macet adalah dengan berangkat lebih pagi. Atau tentang praktik mengajar. Bahwa dari sanalah segala kesulitan harus dihadapi. Karena melaluinya kita akhirnya bertemu dengan guru-guru panutan yang begitu kita kagumi. Kita kadang lupa, bahwa kita sedang dalam proses belajar meningkatkan kompetensi diri. Kita teralihkan oleh tanggung jawab yang kerap kali kita anggap beban. Kita lupa bahwa dalam diri kita terdapat kemampuan yang luar biasa untuk menyelesaikan segala permasalahan. Kita disibukkan dengan mengeluh, dan mencari penyelesaian dengan meminta keringanan. Kita lupa bahwa kita tidak bisa meminta orang-orang untuk tidak menyebabkan macet di setiap jam setengah 7 pagi. Kita lupa bahwa untuk tidak terjebak macet, kita memiliki inisiatif untuk berangkat lebih pagi. Kita harusnya lebih sering belajar dari Super Mario, bahwa untuk bertemu dengan sang Putri, ia harus jalan terus dan menghadapi segala rintangan. Katanya, usaha tidak pernah menghianati hasil.


Tentang usaha kita, setiap orang pasti memiliki caranya sendiri dalam menghadapi segala hal dalam hidupnya. Ada yang memilih untuk terus berjalan, menyerah di persimpangan, atau bahkan menyerah sebelum berperang. Semua itu tidak terlepas dari bagaimana kita melihat diri kita sendiri dan apa yang sedang kita hadapi. Sebelum berperang, sudahkan kamu percaya dengan dirimu sendiri?

Bersambung