01/01/2017

Kenali Dirimu Lebih Baik #2

Baca ini dulu yaa, Kenali Dirimu Lebih Baik.

Semua itu berawal dari keinginanku untuk mencoba hal-hal baru. Namun disisi lain, aku menyadari bahwa aku sedang dibatasi oleh sebuah prioritas menjadi seorang mahasiswa. Sehingga, membuatku berpikir dua kali jika harus mengikuti kegiatan selain perkuliahan. Yang menjadi ketakutanku adalah, jika aku mengikuti kegiatan ini maka kuliahku terabaikan,atau jika aku mengikuti kegiatan itu membuatku ketetaran, apalagi mengikuti ini dan itu, ah payah. Tetap saja,rasa takutku itu mengalahkan segala-galanya. Membuatku lama mengambil keputusan.

Semester satu. Masih teringat di benakku masa-masa ospek dan inagurasi. Awal menjadi mahasiswa baru memang begitu menyenangkan. Melepas seragam putih abu-abu dan beralih ke baju apa saja sesukamu, hahaha. Ya, masih di suasana adaptasi. Menyelami dunia kampus dan seisinya, berkenalan dengan makalah dan revisiannya, mencoba akrab dengan diskusi di setiap pertemuan juga dosen pengampunya, ah, dan banyak hal. Begitulah, semester dini bagiku.


Memasuki bulan ketiga, aku bertemu dengan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) di kampusku. Bukan bertemu sih, tapi, lebih tepatnya mencari-cari. Aku memang sengaja pergi untuk dicari mengikuti kegiatan itu, karena pada dasarnya aku suka menulis dan blablabla. Tapi ternyata, LPM tidak sesederhana itu.



Semester dua. Iya, aku memutuskan berhenti dari LPM. Padahal semester lalu wis bahagia menjadi bagian dari mereka dengan berbagai kegiatannya yang “uw gue banget!”. Kenapa berhenti? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena, “mau fokus kuliah dulu mbak,” wakakak. Akhirnya kehidupan yang membosankan mulai menyergapku. Menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang) membuatku kuper dan tidak berkembang sama sekali. Tapi IPK naik kok, dari 3,66 jadi 3,69. Proses memang tidak pernah menghianati hasil. Tapi what else? Cuma itu?

Semester tiga. Mulai bosan dengan kuliah pulang, akhirnya aku memutuskan untuk mengajar privat anak SD. Tidak hanya itu, aku juga diberi kesempatan untuk menjadi guru ngaji. Lengkap sudah, sesuai dengan apa yang diharapkan bahkan lebih. Selama semester ganjil ini,aku menghabiskan setengah waktu untuk membantu mengerjakan PR, membantu menghafal aksara jawa, dan lain sebagainya. Lumayan menyita waktu, hingga IPK turun menjadi 3,62.

Semester empat. Masih dengan rutinitas yang sama sepulang kuliah. Namun, ada tambahin lagi selepas maghrib. Anak-anak sekitar rumah dengan tanpa di undang tiba-tiba datang membawa PR dan tugas sekolah lainnya, meminta untuk diajari. Baiklah, apa yang akan terjadi dengan IPK ku jika baru jam 9 malam aku usai dari rutinitas? Akhirnya aku bertemu dengan angka 3.61. Tapi, entah mengapa aku mulai tidak mengambil pusing akan hal itu. Karena semester empat menyuguhiku sebuah pengalaman baru.

Aku bertemu dengan seorang guru ngaji dengan metode ummi. Ya, sebenarnya aku sempat tidak lulus BTQ (Baca Tulis Qur’an), dari situ aku mengikuti pogram dari kampusku. Keberuntungan bagiku bertemu dengan seorang guru ngaji yang bisa menunjukkan letak kesalahanku selama ini, dari situ aku menyadari bahwa bacaan Qur’an ku belum begitu baik dan benar. Akhirnya, setelah selesai mengikuti program dari kampusku dengan hasil yang sangat memuaskan, aku mendapatkan kesempatan emas bertemu dengan guru ngaji lagi. Semua itu mungkin tidak akan menghampiriku jika aku tidak memberanikan diri keluar dari zona nyamanku. Ceritanya panjang! Intinya, terimakasih perjalanan hidup!

Semester lima. Selamat datang di zona rawan, hahaha. Rawan kecelakaan. Iya, di semester ini lah aku mulai belajar banyak. Aku memutuskan kembali ke LPM, aku mengikuti magang yang diadakan Telkomsel, aku bekerja sebagai admin di sebuah LBB (Lembaga Bimbingan Belajar), dan aku kuliah. Habis sudah semua perhatianku. Kuliahku tidak benar-benar berantakan, tapi aku mulai mengerjakannya secara formalitas, dan itu sudah keluar dari kesepakatan bahwa kuliah adalah prioritas. Tapi, sungguh, tidak ada yang terabaikan, aku bisa melakukan semua itu sekaligus, tidak ada yang dikorbankan, semuanya selesai. Tapi, mungkin di akhir cerita aku lah korbannya.
Iya, memang aku lah yang berkorban dan akulah korbannya.
***
Menjadi seorang mahasiswa yang hanya sibuk dengan makalah dan presentasi adalah sebuah prioritasku, pada awalnya. Entah semuanya berbanding terbalik, sejak aku menginjakkan kakiku ke luar dari kotak kecil yang selama ini aku huni. Iya, aku mulai melawan rasa takut, memutuskan keluar dari zona ternyamanku, dan menjadi aku yang hari ini, menjadi lebih berarti.

Jika kalian belum menemukan poin dari apa yang sudah aku tulis, jujur aku tidak keberatan untuk menyampaikan kesimpulan atau maksud dari tulisan ini. 

Pada awalnya, aku keberatan jika harus mengikuti kegiatan selain persoalan makalah atau presentasi dan semacamnya. Hal itu lebih kepada ketidak yakinan diriku sendiri. Aku tidak yakin bisa membagi waktu antara LPM dan kuliah, hal itu lah yang membuatku memutuskan berhenti menjadi bagian dari mereka di semester 2. Masuk di semester tiga dan empat, bertemu dengan rutinitas baru yakni ngelesi, ternyata aku bisa melakukan dua hal sekaligus. Padahal, kegiatan itu lebih banyak menyita waktuku dibandingkan dengan LPM.

Kemudian, apa yang terjadi di semester lima, aku mengerjakan empat hal sekaligus; kuliah, kerja, magang, dan organisasi. Nyatanya aku bisa, dan semuanya selesai. Ini hanya masalah aku berani atau tidak memastikan sesuatu─aku bisa melakukannya atau tidak. Dan semua itu bisa kubuktikan dengan cara mencobanya. Mengukur sendiri seberapa jauh kaki ini melangkah, dan seberapa cepat diri ini berlari. Ya, kuliah sambil melakukan kegiatan yang lain membuatku membagi perhatianku sendiri, dan tentu hal itu mempengaruhi hasilnya, IPK ku turun tapi aku mendapatkan pengalaman baru setiap harinya, dan menurutku itu adil.

But, ini adalah perjalanan hidupku, sejauh ini aku hanya berbicara tentang diriku sendiri. Bisa jadi, jika itu kamu atau yang lainnya yang mencoba, hasilnya akan berbeda. Mungkin kamu bisa mengerjakan banyak hal dengan hasil yang sama-sama memuaskan, IPK mu tetap atau bahkan lebih baik, juga pengalaman hidupmu bertambah.

So, guys, sebenarnya kita memang pengendali penuh atas diri kita sendiri, tapi kadang kita juga tidak tahu terbentuk dari apa kita dan apa saja yang bisa kita perbuat dan hasilkan. Bisa jadi kamu punya potensi menjadi pesulap? Tapi, karena kamu tidak pernah mencoba, alhasil kamu tetap jadi dirimu yang biasa-biasa saja di dalam kotak kecil itu. Dibandingkan dengan aku, aku sudah mencoba banyak hal selama aku masih duduk dibangku kuliah, aku telah membuktikan bahwa aku bisa melakukan dua, tiga, empat hal sekaligus dalam satu waktu, dan semuanya selesai, tidak mengecewakan, meskipun jika aku melakukannya dengan focus akan membuahkan hasil yang lebih memuaskan. Everyone know it. Tapi, karena terlalu focus, tekadang kita mematikan peluang untuk maju, menjadi lebih baik, lebih berarti. So, kenali dirimu lebih baik ya!

Btw, coba lah bereksperimen dengan dirimu sendiri, gali pengalaman emas sebanyak-banyaknya. Tapi, kamu harus ingat, bahwa semua itu bisa dilakukan dengan tidak mengabaikan lelah dan dahagamu, ada hal yang lebih penting daripada sekantong emas, semua orang tahu, ia bernama kesehatan. Jangan menunggu hingga demam membuatmu tidur seharian atau kecelakan di persimpangan jalan seperti yang menimpaku di awal Desember lalu. Itu namanya kasep!

6 comments:

  1. Good job mbk santi.....!
    Tpi don't forget disetiap hal yng tlah kta lkukan ntah disaat baik / buruk, pasti dan jngan sampai lupa ada DALANG dibalik itu semua, sadari...ان الله معنا
    Hal itu akan membuat kita selalu bersyukur atas ni'mat-Nya. 👌😉

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak fatma. Kalo itu wes otomatis wes. Tapi, mungkin karena konten sing aku tulis ngga menyinggung itu sama sekali ya.. lain kali wes. Mksh wis mampir mbak 😍

      Delete
  2. mbak san, first impressionku baca blogmu adalah kueren!
    boleh aku share?

    ReplyDelete

Mari berdiskusi, kalo perlu sambil ngopi ;)
Tinggalkan komentar tapi jangan tinggalkan aku.