21/06/2017

Kebenaran itu Kompleks #2

Baca ini dulu yaaa, Kebenaran itu Kompleks #1

"Kenapa kamu suka membaca?" akhirnya pertanyaan ini ia sampaikan padaku.

Kali ini aku tidak berkedip, dengan mantap aku katakan, "karena aku butuh".

Ada banyak alasan yang melatar belakangi mengapa seorang teman akhirnya mengajukan pertanyaan itu padaku. Perkiraanku. Karena ia masih merasa asing dengan orang-orang yang menggunakan waktu senggangnya untuk membaca. Bahkan dalam konteks ini aku pernah membahasnya dengan seorang teman (yang lain) di suatu waktu. Bahwa baginya untuk membawa buku tanpa menyimpannya dalam tas adalah suatu hal yang ia sebut "pamer", aku definisikan itu sebagai bentuk "pencitraan", mungkin begitu maksudnya. Kemudian aku simpulkan, bahwa membawa saja telah memberikan penilaian seperti itu, apalagi membaca di depan orang-orang yang tidak membaca. Bagaimana menurutmu?

Entahlah. Aku tidak yakin apakah aku hidup di negara yang masyarakatnya membaca atau tidak. Tapi, jika berpijak pada data statistik dari UNESCO, kita bisa menyimpulkan bahwa hanya segelintir orang Indonesia yang membaca. Meskipun di sisi lain kita tahu, toko atau bazar buku tidak pernah sepi dari pelanggan. Jadi, mana yang benar? Ah, jangan jauh-jauh, coba lihat saja sekitarmu, atau bahkan dirimu sendiri, sejauh mana kegandrunganmu terhadap buku? Kemudian simpulkan sendiri. Atau bagaimana penilaianmu jika melihat seseorang yang tengah membaca buku di teras mushola sepertiku ketika jam istirahat, apakah hal itu begitu asing bagimu? Jika iya, berarti benar, kita memang hidup di tengah-tengah masyarakat gerilya, dimana kegiatan membaca tidak perlu diperlihatkan. Karena membaca bagi kita adalah kegiatan yang begitu elit, hanya orang-orang pintar dan berpendidikan yang melakukan itu. Artinya, membaca buku di depan umum sama saja menunjukkan bahwa "aku pintar, aku berpendidikan". Begitukah?

19/06/2017

Kebenaran itu Kompleks #1

Siang itu, di jam istirahat setelah mengajar beberapa materi Pondok Romadhon, aku memilih duduk-duduk bersama pengajar yang lain di teras mushola sekolah. Sambil mengeluarkan buku dari dalam tas, aku memutuskan untuk membacanya. Buku yang ku pinjam dari seorang dosen psikologi di kampusku memang begitu menarik perhatianku. Dari sekian banyak judul buku di rak taman bacanya, seakan-akan hanya judul itu yang mendesakku, seperti memintaku untuk membawanya pulang. "Perempuan Berbicara Kretek" begitu kalimat yang tertera di halaman sampulnya.
Source : Google


Memang ada beberapa alasan mengapa aku tertarik dengan buku itu, salah satunya karena seorang teman lelaki perokok yang beberapa kali sempat menghabiskan makan siangnya bersamaku, membuatku menjadi sering memperhatikan rokok dan rentetan aktivitas yang menyertainya, juga stigma yang kuberikan padanya (rokok). Tapi, bukan seorang perokok itu yang ingin aku tulis. Juga bukan buku yang sedang ku bawa. Namun, sebuah pertanyaan dari seorang teman yang siang itu sedang duduk di sebelahku, ia sering memperhatikanku membaca buku di jam-jam istirahat. Hingga akhirnya ia mengawali sebuah percakapan dengan pertanyaan ini, membuatku menutup buku dan berdiskusi sedikit dengannya.

"Nyapo awakmu kok seneng nulis?" (Kenapa kamu suka menulis?)

Aku berkedip sekali, tidak serta merta menjawab pertanyaannya, menandakan bahwa aku masih berpikir. Bisa jadi, karena aku tak memiliki alasan yang spesifik, mengapa aku menyukai menulis. Akhirnya aku menjawab sekenanya. "Karena dengan menulis sama saja dengan mengaktifkan otak secara keseluruhan (otak kanan dan otak kiri). Menulis adalah kegiatan menyampaikan ide atau gagasan. Kita tahu bahwa kegiatan tersebut adalah kerja dari otak kanan. Sedangkan otak kiri berperan dalam editing, dari stitulah mengapa sebuah tulisan mudah dipahami. Otak kiri kita bekerja bersamaan dengan otak kanan, ketika otak kanan sibuk menuangkan ide ke dalam tulisan, otak kiri secara aktif mengatur kata demi kata agar pesan dari setiap kalimat bisa tersampaikan," jawabku.

"Jadi dari segi manfaatnya lah alasanmu suka menulis?" tambahnya.

Aku berkedip lagi.

"Tidak," jawabku singkat. Aku hanya menjawab tidak, karena tentu bukan itu alasanku. Seseorang menyukai menulis bukan karena ia mengatakan "suka" kemudian pada saat itu juga ia "menulis". Bukan juga karena menulis memiliki seabrek manfaat kemudian hal itu menjadikan seseorang seketika "menulis". Tidak.

"Kenapa kamu suka membaca?" akhirnya pertanyaan ini ia sampaikan padaku.

Kebenaran itu Kompleks #2

21/04/2017

Emansipasi Salah Fokus

Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya (R.A. Kartini)

Selamat Hari Kartini untuk semua perempuan Indonesia di manapun kalian berada.



Beberapa perayaan telah berlangsung di sudut-sudut kampung juga di lembaga pendidikan. Sekumpulan perempuan menggunakan kebaya dan juga konde. Tidak hanya itu, berbagai perlombaan juga memeriahkan Hari Kartini. Sekilas, perayaan-perayaan tersebut hanyalah bersifat “ceremonial” yang minim makna akan perjuangan yang sebenarnya. Semua hanya memberikan kesan euphoria. Padahal, dibalik itu, sejarah mencatat perjuangan emansipasi perempuan oleh Kartini melalui surat-suratnya.

Perjuangan Kartini bisa dikatakan berawal dari sebuah pertanyaan yang diajukan seorang kawan kepada dirinya. “Apa cita-citamu?”. Berawal dari situlah Kartini mempertanyakan kepada dirinya sendiri, ingin menjadi apa ia suatu hari nanti. “Apalagi kalau bukan menjadi Raden Ayu,” jawab bapaknya. Mendengar jawaban itu, Kartini sumringah sekaligus bingung. Apa maksud dari menjadi Raden Ayu? Ternyata Raden Ayu adalah gelar kebangsawanan Jawa yang diberikan kepada seorang perempuan keturunan ningrat yang menikah dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenal. Mengetahui itu, Kartini menolak.

24/03/2017

Pada Dasarnya Semua Orang (Bisa) Baik

Pernahkah kalian membenci seseorang?
Apa yang kalian benci?
Sosoknya ataukah sikapnya?



Bagiku keduanya berbeda. Meski ada yang beranggapan bahwa keduanya sama, dengan asumsi bahwa sikaplah yang membentuk seseorang. Tapi, bagiku sebaliknya. Seseorang tidak ditentukan oleh sikapnya. Bahkan, banyak dari kita yang mengalami pertentangan antara hati dan pikirannya, apalagi dengan sikapnya. Aku, dengan sepenuh hati percaya, bahwa pada dasarnya semua orang bisa baik, bisa pula tidak. Karena setiap orang pasti memiliki potensi untuk baik. Jika membenci, pertama kali yang ku benci bukanlah sosoknya, tetapi sikapnya.

Secara personal, mulai  dari garis matanya, senyumnya, bahkan warna kulitnya, tidak ada yang ku benci. Orang mudah membenci hanya karena ras. Warna kulit. Belum lagi jika berbicara perbedaan manusia karena agama, status ekonomi, atau keyakinan politik bahkan partai yang mereka ikuti. Mereka bisa saja dicap ini itu dengan mengabaikan esensi bahwa pada dasarnya setiap orang adalah baik. Hanya sikapnya yang membuatnya berbeda, bukan ras, bukan profesi, dan bukan bukan yang lain. Kita berbicara tentang sikap. Kita berbicara tentang akhlak. Bahwa bukan akhlak yang membentuk kita. Tapi kitalah yang membentuk akhlak. Memutuskan menjadi apa kita, bukan sebaliknya. Kita bukan ditentukan oleh hal-hal yang ada diluar kita. Tapi kitalah pengendali penuh atas diri kita sendiri.

Pembahasan ini bisa jadi akan sangat melebar. Bahwa di mata sang pencipta, makhluk-Nya adalah sama. Bahwa di mata negara, warganya dikenai hukum yang sama. Bahwa di mata perseorangan, antar sesama memiliki penilaian yang berbeda. Tapi, di mataku, pada dasarnya semua orang adalah baik.

Semoga kalian memiliki interpretasi yang sama dengan apa yang aku maksudkan.

Berbicara tentang itu aku pikir penting. Melihat perpecahan sering terjadi karena kita tidak memahami apa yang kita benci. Bahwa persoalan organisasi bisa mengakibatkan perpecahan antar perseorangan. Bahwa perdebatan di bangku kuliah menimbulkan perkelahian di luar lingkungan kampus. Bahwa persoalan warna kulit menyebabkan diskriminasi individu, kelompok, maupun golongan. Sebenarnya bukan sosoknya yang kita benci. Tapi persoalannya. Mari kita bahas dengan santai. Kalian ikut organisasi? Aku kira bukan hal asing lagi jika berbicara tentang pertentangan. Di dalam organisasi setiap anggota memiliki misi yang sama, tapi tidak bisa dinafikkan bahwa di setiap kepala pasti memiliki ide cemerlangnya masing-masing. Perbedaan ini lah yang membawa pada pertentangan. Sebabnya, bisa jadi karena cara penyampaian pendapat yang tidak mengenakkan. Bisa jadi dengan cara menjatuhkan atau meremehkan ide orang lain. Dari sini kita tahu, bahwa ini adalah perihal sikap. Tapi sayangnya, setelah urusan organisasi selesai, kebanyakan dari kita membawanya keluar dan membesar-besarkannya. Bahwa karena hal itu seseoarang bisa saling membenci. Pertanyaannya, apa yang kalian benci? Sosoknya kah atau sikapnya?

Aku menawarkan cara berpikir ini. Bencilah sikapnya tapi maafkanlah orangnya. Percayalah bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki potensi untuk baik.

Coba  kita diskusikan lagi. Bagaiamana jika seseorang tadi menyampaikan pendapatnya dengan santun dengan tidak menjatuhkan yang lainnya? Tentu  saja. Respon akan berbeda. Dengan begitu kalian akan menyukai caranya mengemukakan pendapat. Saya ulangi. Bahwa kalian menyukai caranya. Bukan karena orangnya. Sama halnya dengan membenci. Kita membenci cara atau sikapnya, dan seharusnya bukan  orangnya.

Cobalah untuk memahami, sebenarnya apa  yang kalian benci. Agar kalian tidak mudah membenci seseorang secara personal.

Lantas, bagaimana dengan orang yang dibenci? Jika kalian memahami dan mengamini konsep bahwa pada dasarnya setiap orang adalah baik, tapi hanya kamu yang memahami itu, sedang orang yang membencimu tidak. Maka belajarlah bersikap baik. Karena yang membencimu tidak memahami dan meyakini konsep ini, karena itu mereka memutuskan untuk membenci sikapmu sekaligus dirimu.  Memilih menjadi orang yang tidak pemaaf.

Pahami konsep ini agar kita menjadi pemaaf. Aku juga sedang berusaha dan mencoba. Mari berdoa untuk setiap kebaikan yang kita usahakan.

Tulisan ini ku buat untuk Fandi Ilyas, teman baik yang mengajariku banyak hal. Terimakasih atas pertemanan sekaligus perdebatan. Jangan ada kata maaf diantara kita hahahaha

01/01/2017

Kenali Dirimu Lebih Baik #2

Baca ini dulu yaa, Kenali Dirimu Lebih Baik.

Semua itu berawal dari keinginanku untuk mencoba hal-hal baru. Namun disisi lain, aku menyadari bahwa aku sedang dibatasi oleh sebuah prioritas menjadi seorang mahasiswa. Sehingga, membuatku berpikir dua kali jika harus mengikuti kegiatan selain perkuliahan. Yang menjadi ketakutanku adalah, jika aku mengikuti kegiatan ini maka kuliahku terabaikan,atau jika aku mengikuti kegiatan itu membuatku ketetaran, apalagi mengikuti ini dan itu, ah payah. Tetap saja,rasa takutku itu mengalahkan segala-galanya. Membuatku lama mengambil keputusan.

Semester satu. Masih teringat di benakku masa-masa ospek dan inagurasi. Awal menjadi mahasiswa baru memang begitu menyenangkan. Melepas seragam putih abu-abu dan beralih ke baju apa saja sesukamu, hahaha. Ya, masih di suasana adaptasi. Menyelami dunia kampus dan seisinya, berkenalan dengan makalah dan revisiannya, mencoba akrab dengan diskusi di setiap pertemuan juga dosen pengampunya, ah, dan banyak hal. Begitulah, semester dini bagiku.


Memasuki bulan ketiga, aku bertemu dengan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) di kampusku. Bukan bertemu sih, tapi, lebih tepatnya mencari-cari. Aku memang sengaja pergi untuk dicari mengikuti kegiatan itu, karena pada dasarnya aku suka menulis dan blablabla. Tapi ternyata, LPM tidak sesederhana itu.



Semester dua. Iya, aku memutuskan berhenti dari LPM. Padahal semester lalu wis bahagia menjadi bagian dari mereka dengan berbagai kegiatannya yang “uw gue banget!”. Kenapa berhenti? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena, “mau fokus kuliah dulu mbak,” wakakak. Akhirnya kehidupan yang membosankan mulai menyergapku. Menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang) membuatku kuper dan tidak berkembang sama sekali. Tapi IPK naik kok, dari 3,66 jadi 3,69. Proses memang tidak pernah menghianati hasil. Tapi what else? Cuma itu?

Semester tiga. Mulai bosan dengan kuliah pulang, akhirnya aku memutuskan untuk mengajar privat anak SD. Tidak hanya itu, aku juga diberi kesempatan untuk menjadi guru ngaji. Lengkap sudah, sesuai dengan apa yang diharapkan bahkan lebih. Selama semester ganjil ini,aku menghabiskan setengah waktu untuk membantu mengerjakan PR, membantu menghafal aksara jawa, dan lain sebagainya. Lumayan menyita waktu, hingga IPK turun menjadi 3,62.

Semester empat. Masih dengan rutinitas yang sama sepulang kuliah. Namun, ada tambahin lagi selepas maghrib. Anak-anak sekitar rumah dengan tanpa di undang tiba-tiba datang membawa PR dan tugas sekolah lainnya, meminta untuk diajari. Baiklah, apa yang akan terjadi dengan IPK ku jika baru jam 9 malam aku usai dari rutinitas? Akhirnya aku bertemu dengan angka 3.61. Tapi, entah mengapa aku mulai tidak mengambil pusing akan hal itu. Karena semester empat menyuguhiku sebuah pengalaman baru.

Aku bertemu dengan seorang guru ngaji dengan metode ummi. Ya, sebenarnya aku sempat tidak lulus BTQ (Baca Tulis Qur’an), dari situ aku mengikuti pogram dari kampusku. Keberuntungan bagiku bertemu dengan seorang guru ngaji yang bisa menunjukkan letak kesalahanku selama ini, dari situ aku menyadari bahwa bacaan Qur’an ku belum begitu baik dan benar. Akhirnya, setelah selesai mengikuti program dari kampusku dengan hasil yang sangat memuaskan, aku mendapatkan kesempatan emas bertemu dengan guru ngaji lagi. Semua itu mungkin tidak akan menghampiriku jika aku tidak memberanikan diri keluar dari zona nyamanku. Ceritanya panjang! Intinya, terimakasih perjalanan hidup!

Semester lima. Selamat datang di zona rawan, hahaha. Rawan kecelakaan. Iya, di semester ini lah aku mulai belajar banyak. Aku memutuskan kembali ke LPM, aku mengikuti magang yang diadakan Telkomsel, aku bekerja sebagai admin di sebuah LBB (Lembaga Bimbingan Belajar), dan aku kuliah. Habis sudah semua perhatianku. Kuliahku tidak benar-benar berantakan, tapi aku mulai mengerjakannya secara formalitas, dan itu sudah keluar dari kesepakatan bahwa kuliah adalah prioritas. Tapi, sungguh, tidak ada yang terabaikan, aku bisa melakukan semua itu sekaligus, tidak ada yang dikorbankan, semuanya selesai. Tapi, mungkin di akhir cerita aku lah korbannya.
Iya, memang aku lah yang berkorban dan akulah korbannya.
***
Menjadi seorang mahasiswa yang hanya sibuk dengan makalah dan presentasi adalah sebuah prioritasku, pada awalnya. Entah semuanya berbanding terbalik, sejak aku menginjakkan kakiku ke luar dari kotak kecil yang selama ini aku huni. Iya, aku mulai melawan rasa takut, memutuskan keluar dari zona ternyamanku, dan menjadi aku yang hari ini, menjadi lebih berarti.

Jika kalian belum menemukan poin dari apa yang sudah aku tulis, jujur aku tidak keberatan untuk menyampaikan kesimpulan atau maksud dari tulisan ini. 

Pada awalnya, aku keberatan jika harus mengikuti kegiatan selain persoalan makalah atau presentasi dan semacamnya. Hal itu lebih kepada ketidak yakinan diriku sendiri. Aku tidak yakin bisa membagi waktu antara LPM dan kuliah, hal itu lah yang membuatku memutuskan berhenti menjadi bagian dari mereka di semester 2. Masuk di semester tiga dan empat, bertemu dengan rutinitas baru yakni ngelesi, ternyata aku bisa melakukan dua hal sekaligus. Padahal, kegiatan itu lebih banyak menyita waktuku dibandingkan dengan LPM.

Kemudian, apa yang terjadi di semester lima, aku mengerjakan empat hal sekaligus; kuliah, kerja, magang, dan organisasi. Nyatanya aku bisa, dan semuanya selesai. Ini hanya masalah aku berani atau tidak memastikan sesuatu─aku bisa melakukannya atau tidak. Dan semua itu bisa kubuktikan dengan cara mencobanya. Mengukur sendiri seberapa jauh kaki ini melangkah, dan seberapa cepat diri ini berlari. Ya, kuliah sambil melakukan kegiatan yang lain membuatku membagi perhatianku sendiri, dan tentu hal itu mempengaruhi hasilnya, IPK ku turun tapi aku mendapatkan pengalaman baru setiap harinya, dan menurutku itu adil.

But, ini adalah perjalanan hidupku, sejauh ini aku hanya berbicara tentang diriku sendiri. Bisa jadi, jika itu kamu atau yang lainnya yang mencoba, hasilnya akan berbeda. Mungkin kamu bisa mengerjakan banyak hal dengan hasil yang sama-sama memuaskan, IPK mu tetap atau bahkan lebih baik, juga pengalaman hidupmu bertambah.

So, guys, sebenarnya kita memang pengendali penuh atas diri kita sendiri, tapi kadang kita juga tidak tahu terbentuk dari apa kita dan apa saja yang bisa kita perbuat dan hasilkan. Bisa jadi kamu punya potensi menjadi pesulap? Tapi, karena kamu tidak pernah mencoba, alhasil kamu tetap jadi dirimu yang biasa-biasa saja di dalam kotak kecil itu. Dibandingkan dengan aku, aku sudah mencoba banyak hal selama aku masih duduk dibangku kuliah, aku telah membuktikan bahwa aku bisa melakukan dua, tiga, empat hal sekaligus dalam satu waktu, dan semuanya selesai, tidak mengecewakan, meskipun jika aku melakukannya dengan focus akan membuahkan hasil yang lebih memuaskan. Everyone know it. Tapi, karena terlalu focus, tekadang kita mematikan peluang untuk maju, menjadi lebih baik, lebih berarti. So, kenali dirimu lebih baik ya!

Btw, coba lah bereksperimen dengan dirimu sendiri, gali pengalaman emas sebanyak-banyaknya. Tapi, kamu harus ingat, bahwa semua itu bisa dilakukan dengan tidak mengabaikan lelah dan dahagamu, ada hal yang lebih penting daripada sekantong emas, semua orang tahu, ia bernama kesehatan. Jangan menunggu hingga demam membuatmu tidur seharian atau kecelakan di persimpangan jalan seperti yang menimpaku di awal Desember lalu. Itu namanya kasep!

29/12/2016

Kenali Dirimu Lebih Baik

Tidak ada yang salah dari mengukur kemampuanmu sendiri. Memperkirakan sejauh mana kakimu bisa melangkah atau secepat apa kamu bisa berlari. Tapi, jika kamu mulai membatasi diri dan banyak berceloteh tentang ketidakmampuanmu melakukan sesuatu sebelum kamu mencobanya, maka, hal itu sama saja bahwa kamu tidak lebih baik mengenal dirimu sendiri dibandingkan orang lain mengenalmu.
Bau libur panjang sudah tercium sejak pertengahan bulan Desember, udaranya ku hirup dalam-dalam, ku resapi, kemudian ku maknai. Ternyata, siapa saja pasti butuh waktu dan ruang sendiri. Dari seabrek tugas dan rutinitas, siapa pun pasti ingin sehari saja untuk melepas lelah, bebas dari pikiran yang membebani, juga tanggungan yang menghantui. Sepertinya tidak hanya aku yang merindu hari libur, mesin ketik yang ku sebut laptop dan sering ku gunakan untuk nugas ini juga mulai tak acuh dengan charger-nya ketika perkuliahan telah undur diri. Selamat datang libur panjang. Sekali lagi, selamat datang udara segaaaaar.

*Mengehembuskan nafas*

Akhirnya, perkuliahan semester 5 telah terlampaui. Meski IPK belum ujuk gigi tapi resahnya telah terobati. Banyak yang mengeluh, “semester 5 banyak tugas, semester 5 dosennya om killer om, semester 5 banyak observasi, semester 5 nano-nano, semester 5 jomblo,” tapi, siapa pun tahu, mengeluh tidak menyelesaikan tumpukan revisi di dalam laci.

#sayatidakmengeluh

Kala itu, ditengah kepungan tugas kuliah, aku duduk di depan meja kantor─tempat dimana aku bekerja─ hingga jam 8 malam. Pulang-pulang kelelahan, tidur sejenak, jika ada tugas kuliah ya bangun lagi dini hari. Setiap hari begitu. Bukan lagi kebetulan, aku memang memutuskan untuk kuliah sambil bekerja *bukan sebaliknya*. Tapi, kenapa hanya aku yang tidak mengeluh dari cobaan semester 5? Padahal, dibandingkan dengan mereka, waktuku terbatas. Dan tentu, mereka memiliki lebih banyak waktu, baaaaanyak!

Tapi, di sisi lain, sepertinya aku juga terlalu memaksakan diri. Sering mengabaikan rasa lelah hingga sekali dua kali berteman dengan antibiotik dan anti iflamasi (jenis obat). Tapi, itu tidak cukup membuatku sadar hingga kecelakaan di persimpangan jalan itu. Seminggu menginap di rumahsakit dengan suntikan penghilang rasa sakit membuatku berpikir dua kali. Aku sadar bahwa aku lelah. Aku butuh istirahat.

19/07/2016

Menjadi Berbeda itu Tidak (Selalu) Salah

Apakah sesuatu yang tidak ilmiah terdengar bullshit?

Aku mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan. Ia sempat terjawab oleh seseorang, dengan jawabannya yang membuatku hampir berhenti berpikir. “Kadang,” jawabnya. Iya, Itu bukanlah sebuah jawaban yang ilmiah. Dan tentu, ia terdengar begitu bullshit. Melahirkan begitu banyak pertanyaan. Apa yang kau maksud dengan kadang? Kadang bullshit? Kadang tidak? Begitukah yang kau maksud? Lantas, apa ukuran paten yang membedakan kapan sesuatu itu terdengar bullshit atau tidak? Dirimu? Sesuatu itu terkadang bullshit atau tidak itu tergantung dirimu? Jadi, sekarang, kau lah yang memegang otoritas kebenaran itu? Bukan lagi seorang peneliti yang melahirkan hal-hal yang bersifat ilmiah? Oh, aku mulai pusing.

Akhirnya, kita memiliki banyak perbedaan disini, dan itu tidak salah. Kau mungkin memiliki seribu alasan untuk mendukung asumsimu, begitu juga aku. Karena tidak semua hal yang ada di kehidupan kita bersifat ilmiah. Seperti ketika kita memahami sebuah kehidupan, kita meyakini suatu dugaan yang diterima sebagai dasar, kita menyebutnya dengan asumsi,  landasan berpikir yang kita gunakan karena dianggap benar. Dan tentu, kebenaran di kehidupan kita tidak hanya bersifat ilmiah, namun juga bersifat empiris, dan bisa jadi kebenaran yang kau buat sendiri. Contoh, kau meyakini bahwa mengendarai sepeda motor akan lebih cepat dibandingkan mengendarai sepeda. Itu juga sebuah asumsi, dugaan yang kau anggap benar, dan tentu, itu bukanlah ilmiah. Apakah ia terdengar bullshit? Aku tidak akan menjelaskannya hingga detil, aku memberimu waktu untuk berpikir bahkan menyanggah, kau bahkan boleh menyalahi asumsiku, bahkan sebaliknya. Karena menjadi berbeda itu tidak salah.
***
Kita punya aturan disini; untuk menjadi benar kita hanya perlu berkawan dengan perintah, dan mengambil jarak dengan larangan. Segala sesuatu telah diatur oleh hukum alam atau sunnatullah, dalam agama lain juga memiliki prinsip yang sama, semua agama menginginkan keteraturan. Menyakiti sesama makhluk adalah sebuah larangan, yang perlu kita lakukan hanyalah mengambil jarak. Saling memaafkan adalah perintah, yang perlu kita lakukan adalah menjalankan.

Jadi, jika kau berpendapat bahwa, “menjadi berbeda itu tidak salah, selama tidak menyakiti yang lain”, maka aku akan menjawab, “of course!” itu sudah menjadi aturan, kita dilarang untuk saling menyakiti.

Oke, tulisan ini baru dimulai. Apa yang kau pikirkan setelah membaca sebuah pernyataan bahwa menjadi berbeda itu tidak salah? Semoga kamu tidak sembarangan untuk menyimpulkan. Lebih bijak jika kamu bertanya, “berbeda dalam hal apa yang kau maksud, San?”.

Source : Google
Sebuah film yang diangkat dari novel berjudul “Ayah, Mengapa Aku Berbeda?” mewakili pernyataan tersebut. Menjadi berbeda itu tidak salah. Terlahir cacat dan memiliki keterbatasan fisik membuat tokoh dalam film tersebut seringkali ditolak oleh sekitarnya. Meskipun ia terlahir berbeda, tapi ia tetaplah gadis pada umumnya, terlebih ia adalah siswa yang cerdas, bahkan memiliki bakat di bidang seni, seperti ibunya, seorang pianis. Keterbatasan yang ia miliki membuatnya tidak mudah untuk bergabung sebagai anggota dalam kelompok musik.

Contoh lain, jika berbicara tentang psikologis, kita mengenal dua kepribadian manusia yaitu, ekstrovert dan introvert. Dalam dua kepribadian tersebut, seringkali kita mengasumsikan bahwa kepribadian ekstrovert lah yang lebih baik karena keterbukaannya. Sehingga banyak dari seorang introvert yang pendiam memaksakan diri untuk menjadi ekstrovert agar disukai banyak orang. Padahal, untuk menjadi seorang introvert yang berbeda dari ekstrovert, itu tidak salah.

Itu tadi dua contoh yang menjawab pertanyaanmu. Berbeda dalam hal apa? Segala hal. Kita boleh berbeda dalam ras, suku, agama, kebudayaan, fisik, kelamin, kepribadian, bahkan ide atau pendapat. Bayangkan jika kita terlahir sama. Bahkan sepasang anak kembar pun memiliki kepribadian yang berbeda, mereka seringkali bertengkar karena perbedaan dan juga larut dalam kebahagiaan karena perbedaan. Atau contoh lain, beberapa filosof kita memiliki berbagai pemikiran mengenai alam, ada yang menganggap bahwa segala sesuatu berasal dari air (Thales), yang lain menganggap segala sesuatu berasal dari uap atau udara (Anaximenes), dan seterusnya. Pemikiran-pemikiran tersebut membawa pada pemikiran Anaxagoras yang menganggap bahwa ada sesuatu dari segala sesuatu, ia menyebutnya benih-benih. Hingga akhirnya Democritus yang menemukan atom. Jika semua orang memiliki pemikiran yang sama seperti Thales, maka bisa jadi kita tidak akan menemukan proton, neutron dan elektron yang merupakan bagian dari atom.

“Berbeda itu indah,” ungkapnya mengakhiri percakapan.

Menjadi berbeda tidaklah mudah. Kita mengenal Socrates yang berakhir dengan kematian karena mempertahankan apa yang ia yakini. Kita mengenal angel dalam tokoh film “Ayah, Mengapa Aku Berbeda?” yang seringkali hampir putus asa dengan keterbatasannya, atau pun seorang introvert yang dianggap aneh dengan sikap pendiam dan tertutupnya. Menjadi berbeda memang tidak mudah, karena itu aku berasumsi bahwa menjadi berbeda itu tidak salah. Yang membuatnya sulit karena stigma atau anggapan dari sekitar kita bahwa menjadi berbeda adalah aneh, tidak wajar, menakutkan, bahkan menyesatkan. Ini hanyalah tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupannya. Stigma itulah yang salah. Menuntut setiap orang agar selalu sama dengan kitalah yang salah.

Tapi, bagiku, lebih sulit menjadi seseorang yang tidak menuntut dibanding menjadi seseorang yang berbeda. Maka dari itu, lebih baik kita belajar untuk menghargai perbedaan, seperti yang kau sampaikan, bahwa itu adalah hak masing-masing orang. Agaknya aku juga kesulitan, maka dari itu aku memutuskan untuk belajar. Aku tak mampu menjawab apakah sesuatu itu dianggap benar atau salah, karena aku bukanlah satu-satunya pemegang otoritas kebenaran. Yang aku tahu, bahwa memang, menjadi berbeda itu tidak salah. Jadi, bagaimanapun kau berasumsi sebaliknya, menyampaikan bahwa kau tidak setuju denganku, itu bukanlah masalah, masalahnya terletak pada stigma atau anggapan yang menyalahi setiap perbedaan. Jadilah dirimu sendiri. Karena menjadi berbeda itu tidak (selalu) salah.