29/10/2018

Dibukanya Jalan


Saya ingin mengatakan, bahwa saya percaya alam bisa mengajak kita berbicara. Bukan hanya saya, tapi kita. Tergantung. Tergantung bagaimana setiap orang menyebut dan memaknainya. Saya menyebutnya alam, seperti pada definisinya yang utuh, bukan hanya tentang gunung, sungai, dan pemandangan. Saya menyebutnya berbicara, bukan bicara sebagai kata kerja, dimana alam sebagai subjek sedang bercakap seperti apa yang ada di bayangan kita.

Saya coba sebutkan contoh tentang bagaimana alam pernah mengajak saya berbicara. Dalam sebuah artikel yang berjudul Melawan Rasa Takut, saya pernah menuliskannya. Ketika itu, dimana usia saya masih pada fase transisi yang hebat. Tanpa siapa pun menyadari bahkan percaya, saya pernah memiliki ketakutan konyol akan jauh dari rumah dan mengurus diri “sendiri”. Hingga sebuah ajakan untuk mengikuti bakti sosial selama dua minggu lamanya membuatku ingin mencoba dan menguji diri. Tapi, saya tetap tidak berani, saya tetap penakut seperti sebelumnya, saya tidak pernah jauh dari rumah, dan saya tetap keberatan untuk memutuskan “Ya, saya berangkat!”.

Hingga, saya menemukan jawabannya dari sebuah acara TV yang jarang sekali saya tonton. Dan tentu. Saya tidak pernah berpikir apa yang saya alami hanyalah sebuah kebetulan. Tapi, dari apa yang saya harapkan ─keinginan yang besar untuk mencoba merasakan “tidak di rumah”─ dengan keadaan saya yang tak tahu harus memulainya darimana, Yang Agung selalu membukakan jalannya, melalui alam yang mengajak kita berbicara. Hahaha. Tidak ada yang lucu, sama sekali.

Melalui acara TV itu saya percaya, alam sedang mengajakku berbicara. Melalui obrolan-obrolan ringan, saya sesekali menemukan jawaban atas keresahan saya disana. Melalui apa saja tanpa terencana, saya percaya, alam berbicara, menjawab semuanya.

Tulisan ini baru dimulai.

Saya sedang mengalami keresahan. Untungnya saya pandai menutupi segala kegelisahan, seperti caramu menutupi kegalauan. Ya kan? Hahaha.

Saya baru mengajar di salah satu sekolah swasta di Kediri. Di fase adaptasi seperti ini, kadang kita mengalami kebimbangan yang membuat kita berpikir bahwa tidak ada cara lain selain lari. Ada yang tengah beradaptasi dengan waktu, dari luang menjadi sempit. Beradaptasi dengan beban, dari senggang menjadi banyak yang diurus. Atau kesusahan beradaptasi dengan orang-orang yang bisa jadi berbeda dengan orang-orang di lingkungan kita sebelumnya. Meski tidak semua orang mengalami itu. Pun juga saya.

Saya juga tidak mengalami. Saya bisa beradaptasi dengan lingkungan baru saya, ya, karena lingkunhan di sana begitu ramah. Apalagi beban kerja saya yang tidak begitu memberatkan. Dan yang terpenting untuk orang-orang yang memiliki karakter tidak teratur, mengajar 12 jam seminggu atau seminggu libur 4 hari adalah surga yang dirindukan, hahaha. Bagaimana tidak bisa beradaptasi? La wong wis krasaaaaaan.

Kecuali satu. Saya belum bisa beradaptasi dengan ekosistem belajarnya. Paradigma saya tentang belajar, sekolah, dan pendidikan tengah tersesat dan bertolak belakang dengan sekolah yang selama ini kita kenal, meski belum terlampau jauh. Singkatnya, saya sedang meyakini bahwa belajar begitu tidak efektif jika diformalkan apalagi bersifat administratif. Setiap guru memiliki tuntutan kompetensi yang harus diselesaikan dalam kurun waktu yang terbatas. Tapi, sebaliknya, guru dihadapkan dengan keragaman dan keunikan anak yang tidak terbatas. Mudahnya begini, dalam satu kelas tidak jarang kita sebagai pelajar atau sebagai pengajar menemui anak yang memilih untuk tidak memperhatikan atau sibuk dengan dirinya sendiri, meski guru sudah men-setting kelas sedemikian rupa untuk belajar yang menyenangkan. Tapi, bagaimana pun juga semua yang ada di kelas adalah tanggungjawab guru. Karena belajar begitu formal, anak yang tidak siap belajar sering dianggap pemalas dan dianggap nakal atau pengganggu jalannya pembelajaran. Dan tidak jarang pula guru selalu meneriaki, memaki, bahkan mengucilkan. Saya tidak sedang membahas harusnya bagaimana. Tapi, menggambarkan satu dari beberapa contoh ekosistem belajar yang tidak sejalan dengan yang saya yakini.

Hal-hal demikian yang kemudian membuat saya sering berpikir untuk lari, saya tidak mau menjadi bagian dari ini, saya tidak mau mengambil peran disini, saya tidak mampu, saya tidak tahu jalan keluarnya.

Hingga, alam mengambil perannya, mengajak saya berbicara melalui sebuah chatting di Whatsapp.

Lagi-lagi saya meyakini, tidak ada yang namanya kebetulan, meski berangkat dari ketidaksengajaan. Tapi, siapa yang tahu jika jalannya sedang dibuka, dan saya dituntun untuk ke sana.

Seorang kenalan yang nomornya saya simpan, membuat story tentang perhelatan Festival Literasi yang diikuti salah satu SMK di Pare. Saya selalu tertarik dengan topik itu. Itu yang membuat saya mengawali sebuah chat whatsapp dengan Iwan Kapid, seorang pegiat dan penggagas Taman baca Masyarakat di daerah Jambu, kayen Kidul.

Kapan mas sampean longgare? Saya tak main-main ke sana.

“Besok bisa. Sekalian ada acara itu,”



Sebuah percakapan biasa-biasa saja, tapi, saya menyebutnya dengan “alam sedang mengajak saya berbicara”, yang bisa jadi tidak semua orang memaknai percakapan itu sebagai sebuah jawaban atas keresahannya selama ini. Lalu mengabaikannya, lupa, dan begitu seterusnya.

Jika saya verbalkan barangkali alam berkata begini, “Ada jalan keluarnya, kok. Lewat sini. Ku antar sampai ambang pintu saja. Setelahnya lakukan sendiri ya!”

Kujawab, "SIAAAAAAPP!!!"

Temu Pendidik Daerah Kediri Raya adalah salah satu forum komunitas Guru Belajar Kediri Raya. Komunitas dimana orang-orang yang tergabung di dalamnya percaya, bahwa mereka tidak sendiri. Atas keresahan yang saya alami, bertemu dengan komunitas ini merubah keyakinan saya; saatnya memikirkan cara selain lari!

*Topik yang dibahas di pertemuan Minggu, 28 Oktober 2018 kemarin mengenai disiplin positif dan Literatre Circle (klub mambaca) akan penulis tulis dalam artikel berjudul MENGHENDAKI “PERILAKU NEGATIF DISUDAHI” BERBEDA DENGAN MENGHENDAKI “PERILAKU POSITIF DILAKUKAN”

23/09/2018

Sinergi Orangtua dan Sekolah

Saat ini, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak mulai didengung-dengungkan kembali. Sejak mengemuka kebijakan sekolah gratis, sekolah wajib 9 tahun, bahkan 12 tahun─meski sebatas retorika─seakan memangkas peran serta orangtua. Entah bagaimana awalnya, orangtua hari ini begitu percaya dan menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Orangtua merasa perannya cukup dengan melunasi biaya administrasi, merasa puas dengan melihat anaknya bersedia bangun pagi, berseragam rapi, dan bersiap ke sekolah, namun, tidak mempersoalkan atau bahkan tidak memahami apakah selama 9 tahun melakukan rutinitas itu, anak-anak mereka benar-benar belajar atau malah mengalami kemandekan.

Tapi, orangtua memang tdak perlu melibatkan diri dalam pendidikan anak-anaknya di sekolah. Sangat tidak perlu. Buat apa. Negara telah memberi porsi untuk mengurusi pendidikan hingga ke pelosok-pelosok negeri. Pun kebijakan yang dibuat tidak serta merta seminggu jadi. Banyak pemikir yang terlibat di dalamnya demi terwujudnya pendidikan yang mencerdaskan kehidupan. Maka dari itu, tidak salah jika mengatakan bahwa orangtua tidak perlu ikut campur. Wong dari A sampai Z pendidikan sudah diatur oleh negara. Bukan tanpa alasan, Finlandia menjadi acuan untuk memperkuat argumen bahwa orangtua tidak perlu terlibat. Negara dengan predikat pendidikan terbaik di dunia ini memiliki tingkat keterlibatan orang tua yang rendah dalam proses pembelajaran anak di sekolah. Karena orang tua Finlandia memang percaya sepenuhnya terhadap sekolah yang sangat well-prepared. Toh, nyatanya juga berhasil. Apa bedanya? Sekolah di Indonesia kan juga well-prepared.

Kelas Orangtua

Pemandangan yang berbeda terjadi di Sekolah Alam Ramadhani. Jika sekolah lain melakukan pertemuan orangtua hanya pada momen-momen tertentu, seperti tahun ajaran baru atau pengambilan raport, di Sekolah Alam Ramadhani pertemuan orangtua bisa berlangsung dua minggu sekali. “Kelas Orangtua”, begitu kiranya forum pertemuan itu dikenal. Kelas yang berlangsung 30 hingga 45 menit itu dimaksudkan untuk menyampaikan tema-tema pembelajaran seminggu hingga dua minggu ke depan kepada orangtua anak. Tujuannya agar terjadi sinergi antara pembelajaran yang di lakukan di sekolah dengan orangtua di rumah.

Jumat, 21 September 2018, menjadi pertemuan ke tiga kelas orangtua. Mengawali pertemuan itu, Sunarno selaku manajer sekolah Alam Ramadhani menyampaikan tujuan diadakannya kelas orangtua, yaitu, terwujudnya keselarasan.

Konsep merdeka belajar tentu masih asing di telinga hampir kebanyakan orang. Bahkan tidak semua orangtua mendaftarkan anak-anaknya di Sekolah Alam Ramadhani karena memahami konsep belajar tersebut. Tidak bisa dipungkiri, alasan yang melatarbelakangi hanya karena sebuah kebetulan. Meski konsep merdeka belajar hanya satu dari sekian konsep yang diterapkan di Sekolah Alam Ramadhani, namun, melalui Kelas Orangtua tersebut diharapkan apa yang telah diupayakan di sekolah menjadi optimal dengan peran serta orangtua di rumah.

Tanpa adanya sinergi antara sekolah dengan orangtua, pembelajaran yang berlangsung di sekolah hanya akan menjadi angin lalu. Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa prosentase peran guru dalam prestasi anak hanya 1-14%. Sedangkan struktur sekolah 7-20%. Sisanya, 60-80% adalah individu atau anak itu sendiri. Jadi, bukan soal siapa gurunya dan dimana sekolahnya, tapi, bagaimana orangtuanya berperan dalam pengasuhan sehingga tercapai perkembangan pada diri anak secara optimal.

Bukan Sekolah yang Melibatkan Orangtua

Orangtua lah yang melibatkan sekolah untuk pendidikan anak-anaknya, bukan sebaliknya. Salah satu orangtua murid dalam pertemuan Kelas Orangtua menyampaikan bahwa sebelum mendaftarkan anaknya di Sekolah Alam Ramadhani, ia melakukan School Shopping ke beberapa sekolah untuk menemukan lingkungan sekolah yang sesuai untuk anaknya. Menurutnya, keterlibatan orangtua bisa dimulai dengan melakukan tindakan tersebut. Jika berbicara tentang perlu dan tidak perlunya keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak, jika bertolak dengan kondisi pendidikan yang bisa dikatakan well-prepared, nyatanya masih ada orangtua yang melakukan School Shopping, maka tidak aneh jika pada akhirnya permasalahan ini berakhir pada kesimpulan bahwa Negara tidak berhasil membuat orangtua percaya untuk menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anaknya ke sekolah-sekolah konvesional. Meskipun tidak sedikit faktor yang melatarbelakangi mengapa orangtua sampai harus melakukan School Shopping.

Tapi, School Shopping sejatinya mempertegas bahwa pendidikan anak pada dasarnya adalah tanggungjawab orangtua. Sekolah adalah lingkungan belajar yang diikutsertakan orangtua untuk mengoptimalkan pendidikan anak-anaknya.

Urun Rembuk Orangtua Ramadhani

Peran orangtua murid semakin terlihat ketika Kelas Orangtua mereka bawa atas kesadaran bersama. Menyadari bahwa ruang itu bisa mereka manfaatkan untuk berbincang tentang parenting ringan, secara bergantian, satu persatu orangtua murid menyampaikan masukannya di akhir sesi kelas. Mulai dari usulan untuk membahas topik tentang bagaimana meningkatkan kepercayaan diri pada anak, hingga tips dan trik bagaimana menumbuhkan motivasi anak untuk belajar di rumah.

Jika memang ada sekolah dimana guru dan orangtuanya bahu membahu memenjarakan anak. Maka lain dengan Sekolah Alam Ramadhani. Melalui Kelas Orangtua, nampak jelas, guru dan orangtua tengah bahu membahu untuk memerdekakan anak-anaknya.

Salam Merdeka Belajar! Hormat saya kepada orangtua-orangtua hebat Indonesia!

01/07/2018

Angin Segar

Mahasiswa Pendidikan dengan pencapaian lulus tepat waktu dan memiliki seabrek rencana lengkap dengan kegundahannya, sepertinya sedikit terobati setelah menyempatkan diri ikut Konvensi Pendidikan Indonesia (KPI) VI di The Naff School Kediri.

Forum dengan tagline OLDWA (Ojo Leren Dadi Wong Apik) mempertemukan saya dengan para praktisi pendidikan yang mengklaim diri mereka sebagai sekumpulan orang-orang ngawur.


Pendidikan memang tak habis-habisnya memberikan ruang untuk hanya dinyinyiri, dikritisi, atau bahkan dipandang sebelah mata. Selama saya kuliah dan mengambil mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan, saya merasa ditegur secara tidak langsung oleh pernyataan seorang dosen.

"Jangan hanya menge-judge, kita juga bertanggungjawab!"

Sekaligus kesadaran saya serasa digampar habis-habisan. Kalimat itu jadi pegangan saya hari ini. Di mading kamar, ia menjadi reminder paling ampuh, saya selalu diingatkan untuk berhenti sekedar memberikan kritikan tanpa solusi atau aksi.

Semua berawal dari buku pendidikan yang pernah saya baca, dengan menawarkan berbagai paradigma sempat membuat saya menutup mata dan putus asa dengan pendidikan, ketika itu. Saya menjadi begitu pintar mencari celah dari pendidikan tanpa mengimbanginya dengan "apa yang harus dilakukan untuk mengakhiri segala permasalahan".

Kadang membaca buku tanpa diimbangi dengan diskusi sering berpeluang menyesatkan kesadaran kita dalam bernalar dan berperilaku.

Tapi, keputusasaan saya sebagai seorang mahasiswa pendidikan dilibas habis dengan perasaan "saya tidak sendiri". Orang-orang yang datang di KPI VI membukakan mata saya. "Ini lo wajah pendidikan Indonesia. Tidak seseram bayanganmu".

10/06/2018

Aku Menulismu Ketika Melamun di Stasiun


Selama menuju Surabaya
Banyak pemberhentian di sepanjang perjalanannya
Berhenti adalah bagian dari perjalanan
Tidak berhenti; tidak ada penumpang; tidak ada tujuan
Kereta harus berhenti untuk melanjutkan perjalanan

Tapi kita bukan kereta
Berhenti bagi kita bukan bagian dari perjalanan
Tapi, memulai perjalanan baru
Kita hanya penumpang yang bertemu di satu gerbong yang sama
Tidak dengan tujuannya
Kita sama-sama sepakat, melalui karcis kereta
Bahwa kota yang kita tuju sungguh berbeda

Duduk bersanding sepanjang malam
Tidak berarti kita akan turun di kota yang sama
Kala Surabaya telah menjadi akhir perjalananku
Maka setelahnya adalah perjalanan baru
Ya, kita berpisah sejak dari situ

12/03/2018

Semua Menjadi Tidak Penting pada Masanya #3

Dalam percakapan di grup whatsapp itu, aku menemukan berbagai tipe respon atas tulisan yang ku bagikan. Ini hanya berdasarkan asumsi belaka, kesimpulan yang kubuat sepihak tanpa mendiskusikan dengan mereka yang terlibat dalam percakapan. Iya, aku hanya sedang mengungkapkan bagaimana aku menilai orang lain, seperti yang biasa kalian lakukan. Bedanya, mungkin aku menuliskannya disini, sedangkan kalian, hanya kalian simpan sendiri.

Source : Google

1. Tipe Realistis

Tipe ini adalah ia yang berkomentar “Tak ndelok wae lah ben gak kesroh....saiki tak mikir kuliah wae seng bener.... ben ndang cepet lulus, gek ndang mergawe.... golek kehidupan dunia....”. Tipe ini berpikiran bahwa apa yang menjadi topik pembicaraan tidaklah penting jika dibandingkan dengan nasib kuliah dan kehidupannya yang lebih realistis.

2. Tipe Idealis

Tipe ini adalah tipe yang berkomentar “Amin, cita-cita yang mulia. Izin COPAS”. Tipe ini bermaksud memberikan dukungan atas tulisan yang telah ku reshare, karena bisa jadi ia memiliki satu kacamata yang sama dengan penulis.

3. Tipe Realistis-Idealis

Tipe ini adalah tipe yang berkomentar “Iki perlu ditanggepi gak?”. Melihat latarbelakangnya yang telah terjun di kehidupan nyata dengan tuntutan kerja dan gaji bulanan, tapi ia masih menyempatkan untuk ikut menanggapi.

4. Tipe Plin plan

Tipe ini adalah tipe yang berkomentar “Nyimak” namun, setelahnya malah yang paling gencar membantah tulisan dengan memberikan pernyataan “Sering mengkritik penguasa, tapi polahe sama kayak penguasa. Saling menjatuhkan”, dimana artinya ia tidak memberikan dukungan atas tulisan tersebut.

5. Tipe Mengamati

Tipe mengamati adalah saya. Sebelum reshare saya telah berpikiran bahwa ini akan sangat bertolak belakang, melihat grup tersebut berisi sekumpulan mahasiswa semester akhir yang beberapa baru menyelesaikan seminar proposal skripsinya. Akhirnya, ku putuskan untuk mengamati bagaimana respon mereka, mengingat di luar sana, masih banyak mahasiswa yang masih memegang teguh idealisnya, berpikiran bahwa "kalau bukan saya yang mengkritik, siapa lagi."

6. Tipe Mengoreksi

Tipe ini adalah tipe yang meluruskan penggunaan terma oposisi yang ku pakai. Ia tidak menunjukkan apakah ia realistis ataupun idealis. Ia hanya ikut berkomentar dengan maksud memberikan pelurusan.

7. Tipe Mengalihkan Pembicaraan

Tipe ini yang sedari tadi mengikuti perbincangan, namun sama sekali tidak memberikan komentar, ya, silent reader. Tipe ini muncul ketika grup mulai agak pasif, ia datang dengan maksud mengalihkan pembahasan dengan guyonan seperti “mizone mizone, aqua aqua" dan lain sebagainya. Sejak tipe ini muncul, banyak anggota grup lain yang muncul dan menanggapi guyonannya. Akhirnya, pembicaraan teralihkan. Perbincangan selesai. Pengamatan berakhir.

11/03/2018

Semua Menjadi Tidak Penting pada Masanya #2

Selama beberapa anggota grup satu persatu memberikan komentar, saya sibuk menyimak dan berpikir tentang tiap-tiap reaksi dari mereka. Bukan menyoal tulisan yang sengaja saya reshare. Tapi, bagaimana tanggapan mereka, pun juga tanggapan saya atas mereka.

Akhirnya saya memutuskan untuk ikut berkomentar setelah sebuah chat yang menurutku memang perlu untuk ditanggapi,

“Sering mengkritik penguasa, tapi polahe sama kayak penguasa. Saling menjatuhkan.” komentar seseorang yang sebelumnya memutuskan menyimak.

Aku membacanya dengan mengernyitkan kening, sedikit agak gagal paham. Berusaha memahami maksud dari komentar itu. Akhirnya, aku coba mengartikannya begini; mungkin ia berprasangka bahwa pengkritik adalah oposisi, lawan, oponen, kompetitor, atau rival  (entah bagaimana orang membahasakannya). Dimana maksud dari kritikannya bukan untuk membangun tapi menjatuhkan. Bukan untuk memberikan gagasan-gagasan positif, tapi hanya nyinyiran. Juga tentang pilihan kata 'penguasa', sepertinya dari sanalah pemahaman saling menjatuhkan ia sematkan. Bahwa wakil bukanlah wakil, tapi penguasa. Hmmm

Anggap saja benar. Akhirnya ku baca ulang tulisan yang ku kirim tadi. Dan aku menemukan tidak ada satu pun tulisan yang bersifat menjatuhkan penguasa, seperti yang ia katakan. Jangan-jangan ia hanya asal berkomentar tanpa memahami apa yang ia bicarakan(?)

“Soal kritik, sepertinya kita memiliki persepsi yang berbeda. Mengkritik bukan berarti oposisi. Mungkin si penulis ada maksud menyumbangkan gagasannya untuk mendukung atau mensupport ‘penguasa’, dengan saran-sarannya melalui tulisan di atas :)” akhirnya aku menanggapi.

Tapi, sayangnya ia malah mersepon seperti ini, "Mantap, kita memiliki sudut pandang yang berbeda."

Tidak habis pikir memang dengan balasan terakhirnya. Jika perbincangan ini adalah sebuah forum diskusi serius, maka akan terdengar aneh ketika seseorang menyuguhkan persepsinya atas suatu hal, dengan maksud meluruskan persepsi ambigu yang orang lain sampaikan atas suatu hal yang sama, tapi, hanya direspon "yeee kita punya sudut pandang yang berbedaaaaa". Haha, ini apaaaaaaaaa -_-

"Tidak ada yang lebih suka mengkritik daripada pihak oposisi, dari realita politik di tanah aerrrr" tambahnya.

Ia membalas lagi? Ah aku sedikit gemas membacanya. Kali ini ia berbicara perihal realita, mungkin artinya sebelum menyampaikan pernyataan itu, ia telah melakukan survei panjang, observasi dan wawancara kepada siapa saja yang mungkin pernah menulis kritikan-kritikan di kolom opini surat kabar, atau para demonstran yang sedang berdemo di jalanan, atau bahkan melalui cerita orang. Ya, semoga saja ia memiliki dasar.

Lalu, anggota lain yang baru muncul ikut berkomentar. Ia menyanggah atas penggunaan istilah oposisi yang ku gunakan.

“Aku agak tidak setuju, menurut Nurcholis Madjid, mengkritik itu bagian dari oposisi selama mengkritiknya membangun atau check and balance. Sedangkan kritik yang menjatuhkan disebutkan dengan istilah oposisionalisme.” Jelasnya.

Oww, jadi begitu. Menarik. Perihal terma itu memang perlu diluruskan. Akhirnya ku tambali begini, “mungkin singkatnya, maksud dari argumenku tadi adalah; Berdebat bukan untuk mencari pemenang, Mengkritik bukan berarti membenci.”

Semua Menjadi Tidak Penting pada Masanya

Mungkin suatu hari nanti, entah empat, delapan, atau sepuluh tahun ke depan, saya akan berpikir bahwa kegiatan menulis di blog Someday sangatlah tidak penting.

Bahkan, dulu, ketika masih sekolah dasar, bermain petak umpet, kelereng, dan bongkar pasang yang menjadi rutinitas setiap sepulang sekolah menjadi tidak penting di usia SMP, SMA, apalagi di usia 23 tahun, hehehe.
Source : Google
Btw penting nggak? xixixi

Ketika menulis ini, status saya adalah mahasiswa semester akhir dengan sekumpulan rencana untuk lulus cepat. Disamping mencari modal untuk memperlancar usaha, saya juga sedang terlibat dalam penggarapan sekolah alam, semoga lancar.

Lalu, sebuah chat tiba-tiba masuk. “Share dong kak,”

Assalamu'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu.
Selamat malam, kawan-kawanku sekalian. Salam sejahtera bagi kita semua.

Syukur alhamdulillah saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuat, karena sampai saat ini kita masih diberikan kekuatan untuk memikirkan hal-hal yang kiranya belum sempat terpikirkan.

Kalau boleh tahu, apa kegiatan kalian di Hari Minggu ini? Jalan-jalan bersama kekasih, nonton di bioskop bersama teman, atau belanja di Mall bersama keluarga? Atau tidak semuanya?

Apapun itu, yang penting semoga Hari Minggu kalian terasa ceria dan bahagia. Saya sendiri lebih memilih untuk menulis sambil menikmati segelas kopi dan sebatang udud. Tapi jangan salah sangka dulu, kelihatannya saya jomblo, padahal sebenarnya tidak. Tidak punya pasangan maksudnya.

Tapi setidaknya dengan menulis, saya bisa mencurahkan seluruh isi hati, pikiran, emosi, bahkan harapan saya. Bukankah karya tulis adalah anak rohani yang merefleksikan diri penulisnya?

Saya menggaris bawahi, ada satu proses demokrasi yang "cacat" di kampus tercinta kita STAIN Kediri. Kecacatan tersebut saya nilai dari beberapa hal, diantaranya: