06/02/2016

Melawan Rasa Takut

Sourced of google
"Mencoba sesuatu yang baru memang menakutkan. Tapi hidup selalu bicara tentang hal-hal baru. Jadi, mau sampai kapan menghindari hidup hanya karena rasa takut?". Catatan ini ku tulis tepatnya 7 minggu yang lalu, beberapa hari  sebelum aku berangkat mengikuti bakti sosial yang diadakan salah satu organisasi di kampusku. Aku menulis ini sekedar untuk memotivasi diriki sendiri, bahwa aku pasti bisa dan aku tidak takut.

Sejujurnya aku takut berada jauh dari rumah, apalagi untuk 2 minggu lamanya. Karena memang, aku tak pernah melakukan itu sebelumnya. Rasa takut seakan menyelimutiku. Bagaimana tidak,

26/11/2015

Hatiku Tidak Sedang Meninggalkanmu, tapi Menjauhi Keragu-raguan

Kita pernah memutuskan untuk menyimpan seseorang di dalam jiwa, melalui seutas tali yang mudah putus kapanpun. Tali bagiku adalah hubungan 'saling' antara dua manusia yang terlahir berbeda, hubungan yang tidak benar-benar mengikat. Ya, disanalah terkadang aku merasa ada keragu-raguan.

Kita pernah memutuskan untuk saling berjuang, saling memahami dan saling mengerti, itu semua karena kita saling mencintai. Iyakah? Karena itukah? Benarkah karena alasan 'saling mencintai' membuat kita menjadi sejauh ini? Apa yang membuatmu yakin? Apa karena itu 'aku' dan bukan yang lain? Lantas kenapa harus cinta yang membuat hubungan kita menjadi serumit ini?

Baiklah,  intinya aku meyerah karena keragu-raguan. Kita terlalu awal untuk memulai, membuat kita terlalu lama untuk menunggu. Inilah yang membuat hubungan kita menjadi rumit. Masa mudamu habis hanya untuk mengenali dan memahamiku. Biarkanlah waktu tetap berjalan, kita berakhir saja sampai disini, mungkin hati kita tidak. Aku hanya tak ingin membuat hubungan ini semakin rumit dan tidak jelas. Karena kita masih terlalu muda untuk tahu banyak hal. Mulailah hidupmu yang baru. Berjuanglah untuk kehidupanmu yang lebih baik, jangan berlama-lama denganku hanya karena seutas tali. Buatlah tali yang cukup kuat jika kamu benar-benar siap.

03/11/2015

Followers and Following!

"Follback" adalah kependekan dari follow back, yaitu, permintaan untuk mengikuti akun media sosial dari para followers kita yan sebelumnya udah mengikuti akun kita. Dan mereka tak lain adalah temen kita sendiri, bisa jadi mantan kita, atau calon masa depan kita, atau bahkan para fans dan barangkali juga haters kita, intinya bangsa manusia, bukan bangsa vampir atau serigala  *abaikan*
Kalo followers sama following udah tau lah ya artinya apaan. Disini kita nggak lagi bahas apa definisi secara bahasa maupun secara istilah dari kedua kata tadi, tapiii hal nggak penting yang mau gue bahas adalah tentang kebiasaan para pengguna akun sosial media, instagram misalkan, berkaitan dengan dua kata berinisial 'f' tadi.

04/10/2015

WHATEVER!

Pernahkah kalian menonton kontes musik? Pernahkah kalian mendukung satu diantara para kontestan itu? Apa yang menjadi penilaian kalian? Suaranya yang merdu ataukah karena parasnya? Oke, karena suaranya yang merdu. Ya, tentu saja, karena ini adalah kontes musik, bukan kontes kecantikan.

Kita bisa menilai, mana suara yang nyaman di dengar dan mana yang tidak. Yaa, meskipun bisa dibilang kita sendiri tak memiliki suara yang merdu. Tapi untuk menilai mana yang baik dan mana yang tidak, tidak perlu harus jago ini atau itu dulu. Sepakat? Hey ingat, kalian bebas menilai hahaha. Anggap saja sepakat.

02/08/2015

Teman Setiap Masa

Aku bahkan pernah memutuskan untuk tidak berteman dengan siapa pun. Maksudku bukan hidup sendiri dan tidak bicara atau saling menyapa dengan seorang pun, aku hanya pernah berfikir untuk tidak berhubungan dengan seseorang layaknya sahabat. Itu ku putuskan ketika aku mulai menginjakkan kakiku di dunia kampus. Pas. Dunia kampus memang dipenuhi mereka yang hidup dengan tugas dan kepentingan masing-masing. Individualis. Tapi itu hanyalah persepsiku. Kenyataannya tidak sepenuhnya demikian.

15/11/2014

Kemeja Biru

Di ruang itu, dimana kursi panjang dipenuhi semua orang, aku duduk bersebelahan dengan ibumu. Aku tahu bahwa dirimu sedang duduk di bangku paling depan dengan warna biru pada kemejamu, dan ibumu memperkenalkanmu kepadaku, lewat perbincangan singkat itu. Hanya saja, aku tak tahu siapa namamu bahkan wajahmu. Sedikitpun aku tidak memperhatikan, yang aku tahu kita dalam satu tujuan yang sama, iya, hanya itu yang ku tahu dari ibumu.

Pagi inagurasi, aku sedang mengenakan gaun ungu dengan motif bunga-bunga yang indah menghiasinya, aku duduk di tribun dengan banyak orang baru disekelilingku. Saat itu adalah inagurasi dari ospek prodi yang ku ambil. Acara yang membosankan.

Tapi ada hal yang mengingatkanku tentangmu, seseorang dengan suara indahnya tengah membacakan ayat-ayat indah, seseorang yang sama denganmu, ia mengenakan warna biru pada kemejanya. Sepertinya aku lupa bahwa baru saja aku mengatakan inagurasi yang membosankan, karena hal ini menarik perhatianku. Aku mengamatinya dari kejauhan, iya, hanya dari kejauhan. Yang ku tahu seseorang itu mengenakan warna biru pada kemejanya sama sepertimu.

Sekarang, adalah hari pertama kuliah kita. Bahkan bertemu denganmu adalah selalu menjadi hal yang pertama, meskipun kita dipertemukan sebanyak tiga kali tanpa kau menyadarinya. Lagi-lagi aku bertemu dengan orang yang sama. Sama-sama mengenakan warna biru pada kemejanya, entah siapa kamu, seseorang yang duduk di bangku paling depan ataukah seseorang dengan suara indah? Kamu berdiri memperkenalkan namamu, dan aku baru menyadari saat itu juga, bahwa kamu adalah orang yang sama. Seseorang dengan kemeja biru yang duduk di bangku paling depan dan seseorang dengan suara yang indah. Untuk mengetahui namamu, aku harus menunggu di pertemuan ketiga, iya, hari ini.

Akhirnya kita sedekat ini, bertemu denganmu setiap hari dengan warna kemeja yang berbeda. Hingga suatu sabtu, kau mengirimku sebuah pesan. Aku tak membalasnya karena saat itu aku belum tahu bahwa itu darimu. Hingga kau mengirim yang kedua kalinya. Dan aku menyadarinya bahwa itu adalah kamu.

11/08/2014

Minimal Whatsapp, Maksimal Path

Gue habis pulang dari JJM (Jalan-jalan Malam) sama temen something gue. Malam ini adalah malam dimana gue berdoa biar Samsung champ (hp kesayangan gue) jadi hp android dengan jaringan super 3G.

Kenapa nggak beli hp baru?

Alasan kenapa gue nggak beli hp baru karena hp gue masih krasan sama gue. Gue masih bisa kirim SMS, telfon mantan, ndengerin lagu galau (iya kalo SMS gue tiba-tiba nggak dibales sama mantan), narsis sama kamera 1.3 MP, facebook-an, ndengerin radio, dan yang paling penting dari semua itu adalah alarm. Hp gue selalu on-time bangunin gue jam berapapun yang gue minta.

Jujur, sebenarnya bisa dipake SMS sama telfon udah cukup banget buat gue. Tapi gue ngrasa ada tuntutan jaman yang dorong-dorong  gue dari belakang biar gue make sosmed kayak anak alay keren jaman sekarang, halah -___-
Sebenarnya bukan tuntutan jaman sih, tapi tuntutan teman (?)
Secara nggak langsung gue ngrasa mereka ngingetin gue kalo SMS-an udah nggak jaman pas mereka nanya ini ke gue “pin mu berapa pin mu berapa?” dan seketika gue pengen bilang “pin bros punyaku, MAU?!?”

Gue nggak habis pikir kenapa hampir semua orang berlomba-lomba buat ngebanyakin sosmed mereka. Padahal kalo dipikir lebih dalam lagi sosmed bukan kebutuhan penting yang harus dipenuhi. “Tapi kan...” iya gue setuju, hubungan sosial emang penting banget, tapi gue rasa semakin kesini sosmed bukan lagi sosial media yang seharusnya, orang jadi berkepribadian ganda karena make sosmed. Lihat aja gue, di dunia nyata gue adalah spesies cewek yang paling nggak bisa diem, cewek yang nggak bisa jaga mulut, ngoceh sana sini, teriak-teriak kayak anjing galak. Nah kalo di sosmed? cie fotonya cantik-cantik, manis-manis, update statusnya kayak pak Mario Teguh yang bijak (kalo gue sok bijak), senyum sana senyum sini, dan yang lebih ekstrim lagi umur gue bisa lebih muda hanya dengan gue nyantumin tahun lahir bo’ongan. Siapa yang bakal tahu? Apalagi sekarang banyak banget spesies manusia semacam gue yang kalo di dunia nyata sangat mengecewakan dan dunia maya sangat mengagumkan. Suer elo banget kan? Iyalah gue juga, kalo bisa mamerin yang baik-baik ngapain mamerin yang jelek-jelek? Setuju? Retweet! *halah*

Sumpah gue nggak ngiri apalagi cemburu pas gue bilang cie.
Cie foto sama cowok di upload terus bilang “tft ya tft” (thanks for time). Makan di tempat keren langsung bikin moment at Salon Termahal with @maspacar *makan kok di salon?*. Pagi-pagi ngucapin selamat pagi kayak artis yang banyak fans “morning tweeps”. Halah gue banget itu mah. Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, gue kayak cewek kesepian yang hidup gue cuma bergantung sama sosmed, gue kayak diwajibin buat nginformasiin apa aja yang gue lakuin detik ini, jam ini, hari ini ke semua pengguna sosmed.

Gue seneng banget kalo status gue di like 1000 orang, tweet gue di retweet sama artis korea, momen gue di love sama orang-orang keren, dan alhasil gue berasa jadi orang kereeeeeen banget (cuma di sosmed) dan tiba-tiba alarm gue bunyi.

Gue tiba-tiba terbangun dari mimpi gue. Gue terperanjak dan menyadari bahwa gue nggak punya satu sosmed keren sekalipun (suer gue bohong). Dan gue melirik ke bokap nyokap gue *halah* maksud gue bapak ibuk gue, mereka masih tidur, mereka adalah orang keren yang nggak make satu sosmed sekalipun, tapi mereka tetep romantis tanpa upload foto ke sosmed, tetep bisa nyangoni gue tanpa update status "berangkat kerja dulu ya buat nyekolahin anak bla bla bla", tetep cakep tanpa make krim-nya kamera 360. "Kita itu anak jaman sekarang, beda sama bapak ibuk kita, heloooooohhhh". Iya iya iya gue juga tau keleuusss. Gue juga anak jaman sekarang -____-

Pokoknya inti dari postingan gue ini adalah jangan deh kalo elo ngumpulin duit sangu lo cuma buat beli hp android trus biar bisa make sosmed keren. Kalo tujuan lo emang kayak gitu haduh sorry ya, buat gue itu iyuh banget. Gue bukannya ngiri karena hp gue cuma samsung champ, gue juga g mau bilang kalo sebenarnya gue bisa beli hp keren, tapi yang jadi perhitungan gue kenapa gue milih jadi remaja kudet adalah minimal gue bisa komunikasi sama bapak ibuk gue, maksimalnya nanti aja kalo bapak ibuk gue udah ogah bales SMS gue trus mintanya BBM-an 😱

Ingat waktu g pernah berhenti pas kita asik buat moment di path San! Waktu g pernah berhenti pas kita asik upload foto di instagram. Waktu g pernah mau ngalah sama kita, ia terus berjalan konsisten dari detik ke menit dan selanjutnya, ia berjalan terus tanpa berhenti, sedangkan kita? Kita memang sibuk, sibuk bersosial media, kita lupa bahwa waktu selalu menuntut banyak pada kita, tapi kita selalu lupa.